Pengertian Dongeng, Jenis-Jenis Dongeng dan Ciri-Ciri Dongeng
Pengertian dongeng, Jenis-Jenis Dongeng dan Ciri-Ciri Dongeng - Dongeng merupakan
warisan nenek moyang secara turun temurun yang mesti kita lestarikan. Meskipun
kebenarannya masih dipertanyakan, namun dongeng termasuk karya sastra yang
mampu membangun karakteristik anak sejak kecil untuk belajar berimajinasi.
Selanjutnya penulis akan membahas mengenai pengertian dongeng menurut para ahli
yaitu sebagai berikut.Menurut Liberatus Tengsoe(1988:166) mengemukakan : Dongeng adalah cerita khayal semata yang sulit dipercaya kebenarannya. Dalam dongeng disajikan hal-hal yang ajaib, aneh, dan tidak masuk akal. Dahulu dongeng diciptakan untuk anak kecil, isinya penuh dengan nasihat. Dan karena dongeng muncul pertama kali pada zaman sastra Purba di Indonesia maka pada mulanya tergolong sastra orai atau sastra lisan, disampaikan dari mulut ke mulut.
Menurut
Danandjaja (2007: 83), “Dongeng adalah cerita pendek kolektif kesusastraan
lisan. Selanjutnya dongeng adalah cerita prosa rakyat yang tidak dianggap
benar-benar terjadi. Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan, walaupun
banyak juga yang melukiskan kebenaran, berisikan pelajaran (moral), atau bahkan
sindiran”.
Menurut Bascom dalam Danandjaja (2007:50) “Dongeng adalah prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh empunya cerita dan dongeng tidak terikat oleh waktu maupun tempat.”
Dongeng termasuk kedalam
foklor, karena foklor juga ilmu yang menjelaskan tentang kebudayaan yang berada
di masyarakat seperti ilmu gosip, dongeng, dan lain-lain. Didukung oleh Danandjaja (2007: 2) “Foklor
adalah sebagian dari kebudayaan suatu kolektif
yang tersebar dan diwariskanturun-temurun diantara kolektif macam apa
saja, secara tradisional, dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan
maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat.”
Berdasarkan pendapat di atas, penulis
dapat menyimpulkan bahwa dongeng adalah cerita pendek berupa prosa yang tidak
benar-benar terjadi dan diceritakan hanya untuk hiburan, walaupun di dalamnya
berisikan pelajaran moral atau bahkan sindiran.
2. Jenis-jenis Dongeng
Dongeng terdiri
dari beberapa jenis. Menurut Tjahjono (1988: 166)
Mite adalah
dongeng yang menceritakan kehidupan makhluk halus, setan, hantu, ataupun dewa-dewi.
Contohnya dongeng Nyi Rara Kidul dan Nyi Blorong.
Legenda adalah
dongeng yang diciptakan masyarakat sehubugan dengan keadaan alam dan nama suatu
daerah. Contohnya dongeng Malin Kundang dan Banyuwangi.
Sage adalah
dongeng yang di dalamnya mengandung unsur sejarah, namun tetap sukar dipercaya
kebenaranya karena unsur sejarahya terdesak oleh unsur fantasi. Contohnya
dongeng Ciung Wanara dan Jaka Tarub.
Fabel adalah
dongeng yang mengangkat kehidupan binatang sebagai bahan ceritanya. Contohnya Hikayat
sang Kancil dan Hikayat Pelanduk Jenaka.
Parabel adalah
dongeng perumpamaan yang di dalamnya mengandung kiasan-kiasan yang bersifat
mendidik. Contohnya Sepasang Selot Kulit.
Dongeng orang
pendir adalah jenis cerita jenaka yang di dalamnya dikisahkan
kekonyolan-kekonyolan yang menimbulkan gelak tawa dari tingkah laku seseorang
karena kebodohannya, bahkan sering kali karena kecerdikannya.
Dongeng terdiri
dari beberapa jenis. Menurut Thomson yang dikutip Danandjaja (2007: 86),
“Jenis-jenis dongeng ke dalam empat golongan besar yakni. (1) dongeng binatang (animal tales), (2) dongeng biasa (ordinary folktales), (3) lelucon dan
anekdot (jokes and anecdotes), (4)
dongeng berumus (formula tales)”.
Danandjaja
(2007: 86), “ Dongeng binatang adalah dongeng yang ditokohi binatang peliharaan
dan binatang liar, seperti binatang menyusui, burung, binatang melata
(reptilia), ikan, dan serangga. Binatang-binatang itu dalam cerita jenis ini
dapat berbicara dan berakal budi seperti manusia”.
Danandjaja
(2007: 98), “Dongeng biasa adalah jenis dongeng yang ditokohi manusia dan
biasanya adalah kisah suka duka seorang”. Di Indonesia dongeng biasa yang paling
populer adalah yang bertipe Cinderella. Dongeng biasa yang bertipe Cinderella
di Indonesia ada banyak. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur misalnya adalah dongeng
Ande-ande Lumut dan Si Melati dan Si Kecubung, di Jakarta Bawang Putih dan
Bawang merah, dan di Bali I Kesuna Ian I Bawang.
Selanjutnya,
Danandjaja (2007: 117), “Lelucon dan anekdot adalah dongeng-dongeng yang dapat
menimbulkan rasa menggelikan hati, sehingga menimbulkan ketawa bagi yang
mendengarkannya maupun yang meneritakannya. Walaupun demikian bagi kolektif
atau tokoh tertentu, yang menjadi sasaran dongeng itu, dapat menimbulkan rasa
sakit hati”.
Menurut
Danandjaja (2007: 118), “ Perbedaan lelucon dan anekdot adalah: jika anekdot
menyangkut kisah fiktif lucu pribadi seseorang tokoh atau beberapa tokoh, yang
benar-benar ada, maka lelucon menyangkut kisah fiktif lucu anggota suatu
kolektif, seperti suku bangsa, golongan, bangsa, dan ras”.
Anekdot
dinyatakan Danandjaja (2007:118), “Dapat dianggap sebagai bagian dari riwayat
hidup fiktif pribadi tertentu, sedangkan lelucon dapat dianggap sebagai sifat
atau tabiat fiktif anggota suatu kolektif tertentu”.
Dongeng-dongeng berumus dinyatakan
Danandjaja (2007: 139), “Dongeng yang strukturnya terdiri dari pengulangan.
Dongeng-dongeng berumus mempunyai beberapa subbentuk, yakni: a. dongeng
bertimbun banyak (cumulative tales), b.
Dongeng untuk mempermaikan orang (catch
tales), dan c. Dongeng yang yang tidak mempunyai akhir (endless tales)”.
3. Ciri-ciri Dongeng
Dongeng termasuk cerita
rakyat dan merupakan bagian tradisi lisan yang disampaikan dari mulut ke mulut.
Sastra lisan tersebut mempunyai beberapa tanda atau ciri-ciri yang menandakan
dongeng atau sastra lisan sebagai berikut.
Menurut Pudentia (1998:187)
mengemukakan “Ada dua ciri pokok yang dapat digunakan, yaitu (1) dikatakan dan
didengar, dan (2) situasi tatap muka.” Maksud dari pendapat tersebut, penulis
jelaskan bahwa yang termasuk ciri-ciri sastra lisan yaitu ada yang menjadi
pembicara untuk mengatakan atau menyampaikan dan ada pula yang menjadi
pendengar dalam keadaan tatap muka tanpa ada panghalang waktu.
Pendapat di atas, diuraikan lebih lengkap lagi
menurut Danandjaja (2007: 3) yang mengemukakan bahwa ciri-ciri dongeng sebagai
berikut :
penyebaran dan pewarisannya
dilakukan secara lisan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut
(atau dengan suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat, dan alat pembantu
pengingat), dari satu generasi ke generasi berikutnya;
disebarkan diantara kolektif
tertentu dalam waktu yang cukup lama;
ada dalam versi yang berbeda-beda.
Hal ini diakibatkan oleh cara penyebaran dari mulut ke mulut ( lisan);
bersifat anonim, yaitu nama
penciptanya sudah tidak diketahui orang lagi;
biasanya mempunyai bentuk
berumus atau berpola seperti kata klise, ungkapan-ungkapan tradisional, kalimat-kalimat
atau kata-kata pembukaan dan penutup baku;
mempunyai kegunaan (function) dalam kehidupan bersama suatu
kolektif, sebagai alat pendidik, pelipur lara, protes sosial dan proyeksi
keinginan yang terpendam;
bersifat pralogis, yaitu
mempunyai logika tersendiri yang tidak sesuai dengan logika umum;
menjadi milik bersama dari
kolektif tertentu. Hal ini disebabkan penciptanya yang pertama sudah tidak
diketahui lagi, sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa
memilikinya;
bersifat polos dan lugu,
sehingga seringkali kelihatannya kasar, terlalu spontan. Hal ini dapat
dimengerti bahwa dongeng juga merupakan proyeksi emosi manusia yang paling
jujur manifestasinya
Berdasarkan pendapat di atas penulis simpulkan bahwa ciri-ciri dari dongeng yaitu penyebarannya melaui lisan dari mulut ke mulut dan penciptanya tidak diketahui lagi sehingga menjadi milik bersama, serta mempunyai kegunaan dalam kehidupan sehari-hari.
dikutip : http://www.planetxperia.tk/2014/04/pengertian-dongeng-jenis-jenis-dongeng.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar