
MAKALAH
METODE KRITIK SASTRA
Disusun Guna Memenuhi Tugas Kuliah Kritik Sastra
Dibimbing oleh Drs. Tri Mulyono
Oleh :
1.
Septika
Devi Eliandita
2.
Khunaeni
3.
Nurindah
Nulfisari
PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PANCASAKTI
TEGAL
PRAKATA PENULIS
Puji dan syukur
penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya makalah yang
berjudul “Methode Kritik Sastra”. Tidak lupa kami juga mengucapkan terimakasih
atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan
baik materi maupun pikiranya.
Dan harapan kami
semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca,
untuk kedepanya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar
menjadi lebih baik lagi.
Penulis
menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini,
Oleh karena itu kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca
demi kesempurnaan makalah ini.
Tegal,7 Oktober 2015
Penyusun
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Kritik sastra indonesia sudah tidak
asing lagi bagi mahasiswa sastra dan peminat sastra Indonesia. Istilah tersebut
dapat di jelaskan secara singkat dan populer, tetapi dapat di paparkan secara
panjang lebar dan ilmiah. Mungkin juga makna istilah itu tidak dipahami secara
definitif, tetapi terpahami prinsip-prinsip atau semngatnya, bahkan di terapkan
dan di kembangakan secara profesional oleh banyak orang yang berkiprah di dunia
pengetahuan sastra atau sebutlah ‘sastra terapan’ seperi wartawan, kolumnis,
presensi buku, kritikus dan esais pada umumnya. Kalaupun istilah itu harus di
definisikan secara populer maka cukuplah dikatakan dengan kalimat ringkas.
Misalnya, kritik sastra adalah cabang ilmu sastra yang berurusan dengan penilaian
karya sastra, atau kritik sastra itu semacam resensi dan ulasan karya sastra.
Bahkan, boleh juga di katakan dengan gaya seloroh, misalnya, prinsip kritik
sastra itu mengobrak-abrik karya sastra untuk memperoleh mana yang baik dan
buruk.
1.2
Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalahnya yaitu :
1. Apa
saja metode kritik sastra menurut para ahli
?
1.3
Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini yakni :
1. Mengetahui
metode kritik sastra menurut para ahli
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1
Metode Kritik Sastra
Telah
di jelaskan secara ringkas bahwa pendekatan sastra dapat di sebut sebagai
langkah awal kritikus dalam melaksanakan tugasnya,yaitu menetapkan pandanganya
terhadap posisikarya sastra yang di kritik, apakah sebagai ekspresi dunia batin
pengarang, apakah sebagai gambaran kehidupan masyarakat, apakah sbagai harapan
pembaca, dan apakah sebagai struktur gagasan yang mandiri. Harus di tegaskan
lagi bahwa karya sastra itulah yang merupakan objek atau sasaran kritik sastra,
bukan pengarang dan juga bukan pembaca, walaupun makna karya sastra itu, dapat
di hubungkan dengan pengarang dan pembaca. Hai itulah yang membedakan kritik
sastra dengan penelitian sastra sebagai kajian inilah terhadap fenomena sastra
yang objeknya bisa berupa karya sastra, pengarang, pembaca, penerbit, dan
lain-lain. Dalam penelitian sastra yang berobjek pengarang tau pembaca ada
kemungkinan dilakukan metode wawancara yang bertujuan menggali data melalui
percakapan langsung dengan responden dan mungkin juga di terapkan metode
kuesioner yng bertujuan menggali data melalui daftar pertanyaan.
Kedua
metode tersebut tidak mungkin dilakukan dalam kritik sastra karena karya sastra
tidak dapat menjawab wawancara atau kuesioner. Lagi pula, keberadaan karya
sastra sebagai obyek kitik sastra tidak dicari-cari atau dipilih-pilih diantara
sekian banyak karya sastra, tetapi(harus) sudah ditangan kritikus untuk dibaca,
disimak, dan dianalisis sesui dengan prosedur yang berlaku dalam kritik sastra.
Kalaupun seolah-olah berlaku pemilihan bahan yang berupa karya sastra tertentu
sebagai objek kritik sastra, perlu kiranya dicatat bahwa karya sastra terpilih
itu bukan sampel dari populasi, melainkan bahan terpilih berdasarkan simpati
atau keterikatan kritikus setelah membacanya. Dengan kata lain, kritik sastra
tidak memerlukan metode pengumpulan bahan yang berurusan dengan sampel dan
populasi seperti dalam penelitian sosial atau penelitian sastra, tetapi
langsung menganalisis karya sastra sebagai bahan objeknya.
Oleh
karena itu, pengertian metode dalam kritik sastra dapat di pahami sebagai
metode analisis yang bertumpu pada pendekatan dan kerangka teori tertentu.
Lantas timbul pertanyaan, apa saja metode-metode yang dapat dilakukan dalam
kritik sastra.pada hakikatnya semua metode kritik sastra adalah analisis teks (karya
sastra) karena dengan hanya analisislah karya sastra apapun dapat di jelaskan
maknanya. Namun , berhubung analisis itu bergayutan dengan teori sastra maka
lazimlah di pergunakan istilah metode yang sesuai dengan teori tertentu,
misalnya metode pengudaran teks (explication
de texte), metode struktural, metode sosio sastra, metode perbandingan ,
dan lain-lain.
Macam-macam
metode kritik sastra secara umum, yakni sebagai berikut :
2.2.1 Metode Pengudaran Teks
Metode
pengudaran teks (explication de text)
telah di perkenalkan atau di paparkan secara panjang lebar oleh Andre Hardjana(1981:
50-58); ringkasannya kurang lebih sebagai berikut.Metode tersebut sebenarnya
sudah di tinggalkan oleh para kritikus di negara-negara maju karena di sana
telah berkembang teori-teori sastra yang canggih dari psikologi, sosiologi,
fenomenologi, dan strukturalisme, namun pengudaran teks masih dapat di
manfaatkan oleh kritikus pemula (yunior), khususnya mahasiswa Indonesia yang
belum sepenuhnya menguasai teori-teori mutakhir dari Barat, bahkan tidak
memiliki tradisi kritik sastra yang mapan. Pada prinsipnya, dengan metode
tersebut kritikus menghadapi karya sastra secara langsung dengan segenap
pengalaman dan pengetahuanya sehingga memperoleh pemahaman yang orisinal
terhadap karya sastra yng bersangkutan. Dengan metode itu, kritikus tidak
merasa terbebani seperangkat teori yang rumit-rumit, namun tidak berarti hanya
mengandalkan pengalaman dan pengetahuannya sendiri. Kritikus tetap terikat pada
konvensi atau kaidah yang subtansinya relevan dengan kaya sastra, yaitu:
1.
Menganalisis dunia
pengarang,
2.
Menganalisis segala
unsur dan aspek karya sastra, dan
3.
Merumuskan hasil
analisis itu sedemikian rupa sehingga terungkaplah penafsiran yang orisinal.
Tujuan
kritik sastra semacam itu adalah menemukan segala makna yang tersembunyi di
dalam karya sastra, terutama makna yang justru terungkap secara samar atau
implisit, sedangkan pandangan dasarnya adalah bahwa karya sastra apa pun
merupakan sebuah organisme yang utuh dengan lengkap dengan segala unsurnya
sendiri. Dengan pandangan itu maka pengudaran teks dapat dilaksanakan dengan
prosedur atau tahap-tahap kritik sastra yang disebut (1) analisis dan
pandangan, dan (2) sintesis dan penafsiran.
Tahap
pertama merupakan kesempatan kritikus mencari dan menggali segala macam potensi
di pihak pengarang dan karyanyasehingga memperoleh gambaran konkret atau data
yang lengkap mengenai keduannya. Pencarian itu akan berusaha menjawab sejumlah
pertanyaan seputar pribadi pengarang, seperti masa hidupnya, ideologinya, latar
sosial budayanya, profesinya, produktivitasnya, dan konsep kepengaranganya,
sedangkan mengenai karya sastranya akan terjawab atau terungkap antara lain
strukturnya, jalinan unsur-unsurnya, gaya bahasanya, semangatnya, emosinya,
ekspresinya, dan temanya. Semua itu membuka kesempatan kritikus untuk
mengembangkan kreativitas dan kecermatan analisis dalam menghadapi sebuah karya
sastra yang dipandang sebagai sebuah organisme yang utuh dan otonom sebagaimana di kehendaki sang pengarang
sehingga terbuka pula kesempatan kritikus mengolah segala data tahap pertama
itu menjadi susunan gagasan(penafsiran,tanggapan, pendapat) yang merupakan
esensi tahap kedua dan yang selanjutnya disampaikan kepada pembaca.
2.2.2 Metode Struktural
Mudah
di pahami bahwa metode struktural bertumpu pada pendekatan objektif dan
strukturalisme yang mnganalisis jalinan unsur-unsur struktur karya sastra dalam
pembentukan suatu gagasan dan makna tertentu. Dari telaah Kritik Sastra
Indonesia ( Yudiono K.S, 1986: 52-56) di peroleh catatan bahwa metode tersebut
berkembang pada pertengahan abad ke-20 sebagai reaksi terhadap studi sastra bad
ke-19 yang bersifat historis komparatif sebagaimana lazim berlaku dalam studi
bahasa, sedangkan strukturalisme merupakan reaksi terhadap eksitensialisme
sebagai aliran filsafat yang marak di Prancis setelah Perang Dunia II.
Strukturalisme Prancis itu berasal dari Amerika Serikat melalui pertemuan ahli
bahasa Roman Jakobson dan antropolog Claude Levi-Strauss, dan sejak tahun 1965
telah menumbuhkan beberapa aliran atau pendekatan seperti deskripsi teks
berdasarkan analisis bahasa Jakobson, kritik sastra Roland Barthes, dan
narratologi.
Sementara
itu, A.L. Becker, seorang pakar linguistik dari Amerika Serikat(1978).
Menjelaskan bahwa strukturalisme dalam konteks linguistik mengemukakan hubungan
antar bagian dan hubugan bagian dengan keseluruhan dalam hierarki linguisik
suatu teks untuk mengetahui pola umum hubungan-hubungan tersebut. Di luar
strukturalisme terdapat hubungan yang lebih luas, misalnya hubungan antara
pengarang dengan ciptaannya, antara teks yang satu dengan teks yang lain,
antara teks dengan dunia alamiah atau dunia sosial budaya yang di cerminkan
maupun di timbulkan oleh teks yang bersangkutan, sehingga tampaklah bahwa makna
suatu teks ada hubungannya dengan konteksnya. Makna itu baru dapat dijelaskan
melalui analisis struktural suatu teks dalam hubungannya dengan dunia sossial
budaya yang merupakan konteks yang lebih luas.
Menurut
Sapardi Djoko Damono dalam Sosologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas (1978),
strukturalisme yang merupakan pegangan kaum formalis Rusia dan kelompok
linguistik Praha merupakan reaksi terhadap kritik sastra akhir abd ke-19 yang
cenderung menekankan pada faktor-faktor ekstrinsik karya sastra dengan
pandangan itu, kritik sastra abad ke-19 cenderung memperhatikan latar belakang
sejarah dan sosial karya sastra. Sebagai reaksinya, strukturalisme bertujuan
menegakan suatu ilmu sastra yang berdiri sendiri, yang mengakui bahwa sastra
memiliki status sebagai objek kultural yang otonom, dan menolak konsep yang
menganggap karya sastra sebagai cermin kehidupan sosial. Metodenya mengutamakan
perhatian terhadap keutuhan atau totalitas berdasarkan analisis hubungan
bagian-bagianya sehingga ciri-cirinya adalah :
1.
Menelaah struktur di balik
kenyataan empiris
2.
Analisisnya berdimensi
sinkronis
3.
Meyakini hukum
perubahan bentuk
Dengan
perbandingan itulah maka pada tahun 1930 di nyatakan terlarang oleh stalin
selaku pemimpin rusia yang telah menggariskan realisme sosialis sebagai aliran
kritik sastra yang justru menekankan hubungan karya sastra dengan kehidupan
masyarakat.
2.2.3 Metode Sosiosastra
Sesuai
dengan namanya, metode sosiosastra merupakan seperangkat alat untuk memahami
hubungan antara karya sastra dengan kehidupan sosial yang melingkunginya
berdasarkan pandangan bahwa karya sastra iu di ciptakan pengarang sebagai
individu yang pasti berada dalam lingkungan masyarakat dan zaman tertentu,sehingga
masuk akal apabila karya sastra mengungkap berbagai masalah yang terjadi dalam
masyarakat sesuai dengan gagasan atau
persepsi pengarang yang bersangkutan. Apabila kemudian karya sastra itu sampai
ke tangan pembaca, sebenarnya telah melewati prosedur yang panjang dan berliku
terkait dengan (sekurang-kurangnya)peranan penerbit, penyalur, kebijakan
pemerintah, tradisi, dan pendidikan sastra. Dengan demikian, secara teoretis
dapat dikatakan bahwa karya sastra apapun tidak bisa di pisahkan dari kehidupan
masyarakat walaupun relevansinya dengan kehidupan sosial merupakan persoalan
tersendiri yang terbilang rumit sebagaimana
telah dipaparkan oleh para ahli dan pelapor sosiologi sastra.
Pada
prinsipnya, sosiosastra (sosiologi sastra) merupakan sebuah pendekatan terhadap
dunia sastra yang memanfaatkan sosiologi, sebuah disiplin ilmu yang berkembang
sejak abad ke-19. Akan tetapi, sosiosastra muncul terlambat setelah berkembang
pesat sosiologi agama, sosiologi pendidikan, sosiologi politik, dan lain-lain.
Pada hal konsep pendekatan sosial terhadap sastra sudah di rumuskan filsuf
plato yang hidup pada abad ke-5 sebelum masehi.
2.4.4 Metode perbandingan
Metode
perbandingan sudah lama di pergunakan oleh filologi, sebuah disiplin ilmu yang
memusatkan perhatian terhadap
naskah-naskah kuno dengan tujuan mencari naskah yang asli atau mendekati
aslinya sebagai bahan penelitian dalam pengkajian teks untuk mengetahui
gambaran kehidupan manusia dan sosial budaya zaman-zaman yang silam. Metode
perbandingan hanya merupakan salah satu
metode pengkajian naskah karena masih ada meode-metode lain yang harus di
terapkan oleh filologi, yaitu penerapan naskah, penerapan teks, transliterasi,
rekontruksi teks, dan penyutingan.
2.2
Metode Kritik Sastra Menurut Raminah Baribin
Dalam
buku kritik & penilaian Sastra menurut Raminah Baribin ada beberapa metode
kritik sastra. Di dalam buku ini akan di perbincangkan metode-metode kritik
sastra yang di pergunakan (pernah di pergunakan) di dalam kesusastraan
Indonesia. Metode kritik sastra itu antara lain:
2.2.1
Metode
‘Explication De Texte’
Kritik sastra dengan metode ‘Explication
de texte’merupakan gabungan penelitian ilmiah dan kritik yang
seasli-aslinya. Ruang lingkupnya meliputi tiga hal yang secara hakiki berkenaan
dengan sebuah karya, yakni:
§
Pengarang: bagaimana
hubungan karya ini dengan karya-karyanya yang lain, dengan hidup pengarang
sendiri, dan dengan jaman kehidupan pengarang itu;
§
Pengamatan yang teliti
dan terperinci tentang naskah karya: bentuk susunan karya ini, gagasan atau
pemikiran pokoknya, pandangan dan penjelasan tentang persoalan-persoalan bahasa
yang di pergunakan, sindiran-sindiran, gambaran-gambaran, luapan hati, teknik
penulisan, dan sebagainya;
§
Pengelompokan dan
penggabungan pengamatan-pengamatan secara terperinci lengkap dengan
penafsirannya. Disini kiranya perlu dicatat,bahwa pengertian pandangan yang
analitik dan sintetik atau penggabungan berbagai penafsiran tidaklah terpisah
satu sama lain.
Metode
‘explication de texte’ atau metode
pengudaran naskah karya dapat di pandang menjadi dua tingkatan, yakni :
§
Pengarang : hubungan
karya ini dengan karya-karya yang lain dengan hidup pengarang sendiri ,dengan
jaman kehidupan pengarang itu sendiri.
§
Pengamatan : yang
teliti dan terperinci tentang naskah karya, bentuk susunan karya ini atau
pemikiran pokoknya.
§
Pengelompokan : penggabungan
pengamatan-pengamatan secara terperinci lengkap dengan penafsiranya.
Metode
‘explication de text’ atau metode
pengudaran naskah karya dapat di pandang menjadi dua tingkatan , yakni :
1.
Tingkat analitik dan
pandangan
2.
Tingkat sintetik dan
penafsiranya
Bagian ini memberikan keleluasaan
dan kesempatan bagi setiap peneliti karya sastra untuk mengemukakan pandangan
dan pendapat yang seasli-aslinya maupun sebaru-barunya.
2.2.2
Metode
Dikhotomi
Metode ini berlandaskan suatu pendapat bahwa karya sastra itu tersusun
atas dua bagian yaitu bentuk dan isi. Adapun tentang apa yang di maksud dengan bentuk
dan isi itu ada beberapa pendapat.
§
Dalam ‘Theory of Literatur’ (rene welk,
1956:140) dinyatakan bahwa isi adalah segala ide dan emosi yang terjelma dalam
suatu cipta sastra (the ideas and
emotions conveyed in a work of literatre); sedangkan bentuk adalah semua
unsur linguistik yang bertindak menjelmakan isi (Boen Sri Ormarjati, 1962 :
12).
§
Benedette croce dalam
bukunya ‘Aesthetic’ menyatakan, bahwa
“dengan isi di maksudkan kesan-kesan
atau emosionalitet yang tidak di
kerjakan secara seksama dan tidak seara estetik, sedang dengan bentuk di
maksudkan aktivitet intelektual dan ekspresif” ( Boen Sri Oemarjati, 1962 : 12).
2.2.3
Metode
Phenomenologi Husserl
Edmond Husserl memandang suatu
cipta sastra tidak hanya sebagai suatu sistem norma, melainkan juga sebagai
suatu susunan lapis norma. Lapis-lapis norma tersebut berkaitan erat sekali,
lapis yang satu menimbulkan lapis yang lain.
Husserl
membedakan susunan norma-norma itu menjadi tiga lapis (strata) yaitu :
1. Lapis
bunyi
2. Lapis
arti
3. Lapis
objek
Kemudian Roman Ingarden, seorang filsuf polandia menambahkan
dua lapis lagi, yang hakikatnya lapis-lapis itu tidak dapat di pisah-pisahkan,
yaitu :
1. Lapis
sudut pandang tertentu tentang dunia, yang bersifat implisit; dan
2. Lapis
Metafisik (stratum of metaphysical
qualities).
Metode
phonemenologi Husserl ini sering di anggap sebagai suatu metode yang lebih tepat, karena sesuai dengan wujud
kenyataan karya sastra. Di dalam suatu karya sastra tertentu terutama puisi,
lapis bunyi ini mempunyai kedudukan yang penting dan merupakan bagian internal
dari efek estetik. Oleh karena itu tidak salah apabila orang mengatakan bahwa
puisi – dan juga prosa liris – sebagai suatu organisasi dari sistem bunyi bahasa (an organization of a language’s sound
system).
Harus
membedakan dua aspek unsur bunyi, yaitu :
1. Unsur
bunyi yang inherent, yaitu merupakan kekhususan tiap-tiap bunyi dan yang
merupakan dasar efek musikalitas dan “euphony”.
2. Unsur
bunyi yang relasional, yang merupakan dasar irama dan metrum.
Di
samping tugasnya sebagai pendukung arti, bunyi di dalam puisi berfungsi juga
sebagai :
1. Peniru
bunyi, yang di sebut dengan istilah yunani ‘onomatopaeia’.
2. Lambang
rasa, yang di sebut dengan istilah belanda ‘klankzymboliek’.
3. Kiasan
suara, yang di sebut dengan istilah belanda ‘klankmetaphoor’
(Dr.
Slametmulyana, 1956 : 61)
Di
samping tiga fungsi tersebut, di dalam puisi bunyi berfungsi juga sebagai
penghias puisi atau pembagus bentuk. Fungsi ini di laksanakan adanya pola-pola persajakan
di dalam suatu puisi. Akan tetapi hal itu tidak berhenti, bahwa fungsi sajak
semata-mata hanya sebagai anasir hiasan. Ada beberapa fungsi sajak yang lain yaitu
:
1. Sebagai
alat penghubung untuk mengeratkan
kesatuan bagian-bagian dalam baris puisi, apabila berwujud persajakan yang
sama.
2. Sebagai
alat memisahkan atau sebagai batas kesatuan bagian-bagian itu apabila berwujud
pola persajakan yang berlainan.
3. Sebagai
daya evokasi, daya memancing timbulnya kata lain yang hampir serupa bunyinya
(Dr. Slametmulyana 1956 : 80).
2.2.4
Metode
Pendekatan Linguistik
Metode pendekatan linguistik umumnya
berlaku khusus dalam cipta sastra puisi. Drs. Umar yunus, dosen pada IKIP
malang pusat, telah menulis sebuah kitab yang berjudul ‘Dasar-dasar
Interpretasi Sajak’ (pendekatan
linguistik).
§ Memahami
suatu puisi tidak cukup hanya mencari interpretasi simbolik belaka dari
kata-kata dalam puisi itu, melainkan harus dilandasi oleh suatu interpretasi
berdasarkan keadaan struktur bahasa yang ada.
§ Unit
sebuah puisi bukanlah kata, sebab apabila puisi hanya merupakan kata-kata yang
di susun untuk mengutarakan suatu ide atau pikiran, maka sebenarnya tidak ada
artinya baris, bait dan juga kalimat dalam suatu puisi.
§ Semua
proses berfikir, termasuk penciptaan puisi, pasti menggunakan unit-unit bahasa.
§ Oleh
karena puisi merupakan bentuk pengucapan yang padat, maka dalam proses
pemindahan unit-unit itu ada suatu ‘penghilangan’ berbagai unsur bahasa yang
ada.
§ Tugas
seorang yang hendak memahami puisi ialah mengembalikan unsur-unsur yang di
hilangkan. Pengembalian unsur-unsur itu seluruhnya di tentukan lingkungan
struktural bahasa yang ada.
Dalam lingkungan struktural bahasa itu
termasuk juga persoalan hubungan antara unsur-unsur dalam puisi itu, yang
antara lain berupa :
§ Persoalan
penggunaan tanda baca.
§ Persoalan
penggunaan huruf besar dan huruf kecil.
§ Bila
tanpa tanda-tanda eksplisit, maka segala sesuatu di lihat dalam hubungan yang
mungkin antara baris satu dengan baris lainya.
Dengan demikian maka memahami puisi harus
terlebih dahulu tentang :
§ Fungsi
unit-unit dalam puisi dan
§ Persoalan
tanda baca dan penggunaan huruf besar atau huruf kecil pada permulaan baris.
Berdasarkan pokok-pokok pikiran di
atas, maka interpretasi sebuah puisi harus memperhatikan tiga hal :
1. Unit-unit
dalam sebuah puisi
2. Hubungan
antar unit dalam puisi itu
3. Hubungan
antara sebuah unit dalam puisi dengan sebuah unit dalam pengucapan bahasa
biasa.
2.2.5
Metode
Analitik
Metode analitik menganalisis cipta sastra
bagian demi bagian. Sebuah puisi di analisis mulai dari kata ,frase, larik, dan
bait. (Dalam prosa mulai di analisis tema, plot, perwatakan, setting, dan gaya
bahasa).jadi menganalisis unsur-unsur musikal, korespondensi, dan gaya yang
digunakan pengarang.
Metode analitik atau di sebut juga metode
bedah karya sastra, mengutamakan bagian-bagian dulu dan barulah penghayatan
totalitas
2.2.6
Metode
Ganzheit
Metode kritik ‘Ganzheit’ tidak tepat apabila di sebut sebagai salah
satu metode analisis dalam kritik sastra, sebab macam kritik ini tidak
menekankan ‘analisis’ dalam kerjanya.ia mempunyai cara tersendiri yang khas
dalam pendekatan suatu cipta sastra atau cipta seni pada umumnya.
Pada dewasa ini ada beberapa ilmu jiwa
yang di cernakan dalam seni dengan hasil yang memuaskan. Dalam bidang kritik
sastrapun tidak ketinggalan. Ilmu jiwa ‘Gestalt’ yang pertama kali di kemukakan oleh wilhelm
Wundt (1832-1920) telah di pergunakan sebagai dasar landasan metode Ganzheit.
Beberapa pengarang yang telah menulis tentang peranan ilmu jiwa Gestalt dengan seni antara lain ialah
H.E. Roose (A Psychologi of Artistic
Greation), Worner Wolff (The
Expressions of Personaloty) dan Rudolf Arnheim (Gestalt and Art).
Metode Ganzheit dalam kritik seni ( Horizon, 1968 : 101).
Ilmu jiwa Gestalt yang menjadi dasar
metode Ganzheit itu pada azasnya memiliki dua prinsip (pokok pendirian) yaitu :
1. Penghayatan
terhadap sesuatu objek pertama sekali berupa keseluruhan. Dan keseluruhan
(totalisme) itu memiliki sifat (kualitas) baru yang tidak sama dengan jumlah
semua unsurnya.
2. Penghayatan
tiap manusia terhadap satu objek yang sama berbeda-beda sifat atau kualitasnya.
Tiap penghayatan dari tiap manusia adalah unik, mewujudkan sifat keseluruhan
yang berlain-lainan.
Terhadap metode kritik Ganzheit ini telah
timbul beberapa tanggapan, dan di antara tanggapan-tanggapan itu berupa
keberatan-keberatan (Horizon, 1971 :68). Beberapa hal yang di pandang sebagai
suatu keberatan atau sebagai suatu catatan dari metode kritik tersebut antara
lain :
§ Metode
kritik Ganzheit lebih mengutamakan pengalaman estetik dan bukan kepada fenomena
sastra.
§ Tidak
benar bahwa metode Analitik yang di pandang sebagai pertentangan metode kritik
Ganzheit, mengutamakan analisa sebelum ada penghayatan totalitas. Metode
analitik tidak akan membicarakan kata-kata terlepas dari konteks keseluruhan.
§ Metode
kritik Ganzheit yang sangat subjektif itu terutama untuk menyesuaikan diri
dengan perkembangan seni modern yang lebih menekankan tendensi individuasi.
Dengan demikian maka metode tersebut tidak dapat di terapkan untuk pendekaan
pada semua cipta seni.
Demikian beberapa keberatan
terhadap metode kritik ganzheit. Akan tetapi walaupun demikian dengan
munculnya metode tersebut kita telah diperkarya dengan tambahan satu macam cara
dalam usaha pendekatan cipta sastra. Di samping itu kita dapat mengambil
manfaat tentang betapa pentingnya kualitas totalitas sesuatu cipta seni dalam
hubungan dengan unsur-unsurnya.
BAB
3
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Seperti teori-teori
pendekaan sastra yang tidak boleh di pilih-pilih mana yang paling benar, metode
kritik sastra pun tidak perlu di perdebatkan mana yang paling benar atau mana
pula yang terbaik sebab setiap metode memiliki tugas dan fungsi yang relevan
dengan tujuan tertentu dalam kritik satra.
3.2
Saran
1. Pembaca
dapat mengetahui metode-metode kritik sastra
2. Pembaca
dapat mngetahui pengertian metode kritik sastra menurut para ahli
DAFTAR
PUSTAKA
K.S, Yudiyono.2009. Pengkajian Kritik
Sastra.Grasindo
K.S,Yudiono 1986: 52-56 Kritik Sastra
Indonesia
Baribin.R. 2009. Kritik dan Penilaian
Sastra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar