Selasa, 21 Juni 2016

Makalah Metode Kritik Sastra




MAKALAH
METODE KRITIK SASTRA
Disusun Guna Memenuhi Tugas Kuliah Kritik Sastra Dibimbing oleh Drs. Tri Mulyono



Oleh :
1.      Septika Devi Eliandita
2.      Khunaeni
3.      Nurindah Nulfisari








PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS  KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PANCASAKTI
TEGAL
PRAKATA PENULIS

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya makalah yang berjudul “Methode Kritik Sastra”. Tidak lupa kami juga mengucapkan terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikiranya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, untuk kedepanya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Penulis menyadari  bahwa  masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.


Tegal,7 Oktober 2015

Penyusun













BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Kritik sastra indonesia sudah tidak asing lagi bagi mahasiswa sastra dan peminat sastra Indonesia. Istilah tersebut dapat di jelaskan secara singkat dan populer, tetapi dapat di paparkan secara panjang lebar dan ilmiah. Mungkin juga makna istilah itu tidak dipahami secara definitif, tetapi terpahami prinsip-prinsip atau semngatnya, bahkan di terapkan dan di kembangakan secara profesional oleh banyak orang yang berkiprah di dunia pengetahuan sastra atau sebutlah ‘sastra terapan’ seperi wartawan, kolumnis, presensi buku, kritikus dan esais pada umumnya. Kalaupun istilah itu harus di definisikan secara populer maka cukuplah dikatakan dengan kalimat ringkas. Misalnya, kritik sastra adalah cabang ilmu sastra yang berurusan dengan penilaian karya sastra, atau kritik sastra itu semacam resensi dan ulasan karya sastra. Bahkan, boleh juga di katakan dengan gaya seloroh, misalnya, prinsip kritik sastra itu mengobrak-abrik karya sastra untuk memperoleh mana yang baik dan buruk.
1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalahnya yaitu :
1.      Apa saja metode kritik sastra menurut para ahli  ?
1.3  Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini yakni :
1.      Mengetahui metode kritik sastra menurut para ahli













BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Metode Kritik Sastra
Telah di jelaskan secara ringkas bahwa pendekatan sastra dapat di sebut sebagai langkah awal kritikus dalam melaksanakan tugasnya,yaitu menetapkan pandanganya terhadap posisikarya sastra yang di kritik, apakah sebagai ekspresi dunia batin pengarang, apakah sebagai gambaran kehidupan masyarakat, apakah sbagai harapan pembaca, dan apakah sebagai struktur gagasan yang mandiri. Harus di tegaskan lagi bahwa karya sastra itulah yang merupakan objek atau sasaran kritik sastra, bukan pengarang dan juga bukan pembaca, walaupun makna karya sastra itu, dapat di hubungkan dengan pengarang dan pembaca. Hai itulah yang membedakan kritik sastra dengan penelitian sastra sebagai kajian inilah terhadap fenomena sastra yang objeknya bisa berupa karya sastra, pengarang, pembaca, penerbit, dan lain-lain. Dalam penelitian sastra yang berobjek pengarang tau pembaca ada kemungkinan dilakukan metode wawancara yang bertujuan menggali data melalui percakapan langsung dengan responden dan mungkin juga di terapkan metode kuesioner yng bertujuan menggali data melalui daftar pertanyaan.
Kedua metode tersebut tidak mungkin dilakukan dalam kritik sastra karena karya sastra tidak dapat menjawab wawancara atau kuesioner. Lagi pula, keberadaan karya sastra sebagai obyek kitik sastra tidak dicari-cari atau dipilih-pilih diantara sekian banyak karya sastra, tetapi(harus) sudah ditangan kritikus untuk dibaca, disimak, dan dianalisis sesui dengan prosedur yang berlaku dalam kritik sastra. Kalaupun seolah-olah berlaku pemilihan bahan yang berupa karya sastra tertentu sebagai objek kritik sastra, perlu kiranya dicatat bahwa karya sastra terpilih itu bukan sampel dari populasi, melainkan bahan terpilih berdasarkan simpati atau keterikatan kritikus setelah membacanya. Dengan kata lain, kritik sastra tidak memerlukan metode pengumpulan bahan yang berurusan dengan sampel dan populasi seperti dalam penelitian sosial atau penelitian sastra, tetapi langsung menganalisis karya sastra sebagai bahan objeknya.
Oleh karena itu, pengertian metode dalam kritik sastra dapat di pahami sebagai metode analisis yang bertumpu pada pendekatan dan kerangka teori tertentu. Lantas timbul pertanyaan, apa saja metode-metode yang dapat dilakukan dalam kritik sastra.pada hakikatnya semua metode kritik sastra adalah analisis teks (karya sastra) karena dengan hanya analisislah karya sastra apapun dapat di jelaskan maknanya. Namun , berhubung analisis itu bergayutan dengan teori sastra maka lazimlah di pergunakan istilah metode yang sesuai dengan teori tertentu, misalnya metode pengudaran teks (explication de texte), metode struktural, metode sosio sastra, metode perbandingan , dan lain-lain.
Macam-macam metode kritik sastra secara umum, yakni sebagai berikut :
2.2.1 Metode Pengudaran Teks
Metode pengudaran teks (explication de text) telah di perkenalkan atau di paparkan secara panjang lebar oleh Andre Hardjana(1981: 50-58); ringkasannya kurang lebih sebagai berikut.Metode tersebut sebenarnya sudah di tinggalkan oleh para kritikus di negara-negara maju karena di sana telah berkembang teori-teori sastra yang canggih dari psikologi, sosiologi, fenomenologi, dan strukturalisme, namun pengudaran teks masih dapat di manfaatkan oleh kritikus pemula (yunior), khususnya mahasiswa Indonesia yang belum sepenuhnya menguasai teori-teori mutakhir dari Barat, bahkan tidak memiliki tradisi kritik sastra yang mapan. Pada prinsipnya, dengan metode tersebut kritikus menghadapi karya sastra secara langsung dengan segenap pengalaman dan pengetahuanya sehingga memperoleh pemahaman yang orisinal terhadap karya sastra yng bersangkutan. Dengan metode itu, kritikus tidak merasa terbebani seperangkat teori yang rumit-rumit, namun tidak berarti hanya mengandalkan pengalaman dan pengetahuannya sendiri. Kritikus tetap terikat pada konvensi atau kaidah yang subtansinya relevan dengan kaya sastra, yaitu:
1.                   Menganalisis dunia pengarang,
2.                   Menganalisis segala unsur dan aspek karya sastra, dan
3.                  Merumuskan hasil analisis itu sedemikian rupa sehingga terungkaplah penafsiran yang orisinal.
Tujuan kritik sastra semacam itu adalah menemukan segala makna yang tersembunyi di dalam karya sastra, terutama makna yang justru terungkap secara samar atau implisit, sedangkan pandangan dasarnya adalah bahwa karya sastra apa pun merupakan sebuah organisme yang utuh dengan lengkap dengan segala unsurnya sendiri. Dengan pandangan itu maka pengudaran teks dapat dilaksanakan dengan prosedur atau tahap-tahap kritik sastra yang disebut (1) analisis dan pandangan, dan (2) sintesis dan penafsiran.
Tahap pertama merupakan kesempatan kritikus mencari dan menggali segala macam potensi di pihak pengarang dan karyanyasehingga memperoleh gambaran konkret atau data yang lengkap mengenai keduannya. Pencarian itu akan berusaha menjawab sejumlah pertanyaan seputar pribadi pengarang, seperti masa hidupnya, ideologinya, latar sosial budayanya, profesinya, produktivitasnya, dan konsep kepengaranganya, sedangkan mengenai karya sastranya akan terjawab atau terungkap antara lain strukturnya, jalinan unsur-unsurnya, gaya bahasanya, semangatnya, emosinya, ekspresinya, dan temanya. Semua itu membuka kesempatan kritikus untuk mengembangkan kreativitas dan kecermatan analisis dalam menghadapi sebuah karya sastra yang dipandang sebagai sebuah organisme yang utuh dan otonom  sebagaimana di kehendaki sang pengarang sehingga terbuka pula kesempatan kritikus mengolah segala data tahap pertama itu menjadi susunan gagasan(penafsiran,tanggapan, pendapat) yang merupakan esensi tahap kedua dan yang selanjutnya disampaikan kepada pembaca.
2.2.2 Metode Struktural
Mudah di pahami bahwa metode struktural bertumpu pada pendekatan objektif dan strukturalisme yang mnganalisis jalinan unsur-unsur struktur karya sastra dalam pembentukan suatu gagasan dan makna tertentu. Dari telaah Kritik Sastra Indonesia ( Yudiono K.S, 1986: 52-56) di peroleh catatan bahwa metode tersebut berkembang pada pertengahan abad ke-20 sebagai reaksi terhadap studi sastra bad ke-19 yang bersifat historis komparatif sebagaimana lazim berlaku dalam studi bahasa, sedangkan strukturalisme merupakan reaksi terhadap eksitensialisme sebagai aliran filsafat yang marak di Prancis setelah Perang Dunia II. Strukturalisme Prancis itu berasal dari Amerika Serikat melalui pertemuan ahli bahasa Roman Jakobson dan antropolog Claude Levi-Strauss, dan sejak tahun 1965 telah menumbuhkan beberapa aliran atau pendekatan seperti deskripsi teks berdasarkan analisis bahasa Jakobson, kritik sastra Roland Barthes, dan narratologi.
Sementara itu, A.L. Becker, seorang pakar linguistik dari Amerika Serikat(1978). Menjelaskan bahwa strukturalisme dalam konteks linguistik mengemukakan hubungan antar bagian dan hubugan bagian dengan keseluruhan dalam hierarki linguisik suatu teks untuk mengetahui pola umum hubungan-hubungan tersebut. Di luar strukturalisme terdapat hubungan yang lebih luas, misalnya hubungan antara pengarang dengan ciptaannya, antara teks yang satu dengan teks yang lain, antara teks dengan dunia alamiah atau dunia sosial budaya yang di cerminkan maupun di timbulkan oleh teks yang bersangkutan, sehingga tampaklah bahwa makna suatu teks ada hubungannya dengan konteksnya. Makna itu baru dapat dijelaskan melalui analisis struktural suatu teks dalam hubungannya dengan dunia sossial budaya yang merupakan konteks yang lebih luas.
Menurut Sapardi Djoko Damono dalam Sosologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas (1978), strukturalisme yang merupakan pegangan kaum formalis Rusia dan kelompok linguistik Praha merupakan reaksi terhadap kritik sastra akhir abd ke-19 yang cenderung menekankan pada faktor-faktor ekstrinsik karya sastra dengan pandangan itu, kritik sastra abad ke-19 cenderung memperhatikan latar belakang sejarah dan sosial karya sastra. Sebagai reaksinya, strukturalisme bertujuan menegakan suatu ilmu sastra yang berdiri sendiri, yang mengakui bahwa sastra memiliki status sebagai objek kultural yang otonom, dan menolak konsep yang menganggap karya sastra sebagai cermin kehidupan sosial. Metodenya mengutamakan perhatian terhadap keutuhan atau totalitas berdasarkan analisis hubungan bagian-bagianya sehingga ciri-cirinya adalah :
1.                   Menelaah struktur di balik kenyataan empiris
2.                   Analisisnya berdimensi sinkronis
3.                   Meyakini hukum perubahan bentuk
Dengan perbandingan itulah maka pada tahun 1930 di nyatakan terlarang oleh stalin selaku pemimpin rusia yang telah menggariskan realisme sosialis sebagai aliran kritik sastra yang justru menekankan hubungan karya sastra dengan kehidupan masyarakat.
2.2.3 Metode Sosiosastra
Sesuai dengan namanya, metode sosiosastra merupakan seperangkat alat untuk memahami hubungan antara karya sastra dengan kehidupan sosial yang melingkunginya berdasarkan pandangan bahwa karya sastra iu di ciptakan pengarang sebagai individu yang pasti berada dalam lingkungan masyarakat dan zaman tertentu,sehingga masuk akal apabila karya sastra mengungkap berbagai masalah yang terjadi dalam masyarakat sesuai  dengan gagasan atau persepsi pengarang yang bersangkutan. Apabila kemudian karya sastra itu sampai ke tangan pembaca, sebenarnya telah melewati prosedur yang panjang dan berliku terkait dengan (sekurang-kurangnya)peranan penerbit, penyalur, kebijakan pemerintah, tradisi, dan pendidikan sastra. Dengan demikian, secara teoretis dapat dikatakan bahwa karya sastra apapun tidak bisa di pisahkan dari kehidupan masyarakat walaupun relevansinya dengan kehidupan sosial merupakan persoalan tersendiri yang terbilang  rumit sebagaimana telah dipaparkan oleh para ahli dan pelapor sosiologi sastra.
Pada prinsipnya, sosiosastra (sosiologi sastra) merupakan sebuah pendekatan terhadap dunia sastra yang memanfaatkan sosiologi, sebuah disiplin ilmu yang berkembang sejak abad ke-19. Akan tetapi, sosiosastra muncul terlambat setelah berkembang pesat sosiologi agama, sosiologi pendidikan, sosiologi politik, dan lain-lain. Pada hal konsep pendekatan sosial terhadap sastra sudah di rumuskan filsuf plato yang hidup pada abad ke-5 sebelum masehi.
2.4.4 Metode perbandingan
Metode perbandingan sudah lama di pergunakan oleh filologi, sebuah disiplin ilmu yang memusatkan  perhatian terhadap naskah-naskah kuno dengan tujuan mencari naskah yang asli atau mendekati aslinya sebagai bahan penelitian dalam pengkajian teks untuk mengetahui gambaran kehidupan manusia dan sosial budaya zaman-zaman yang silam. Metode perbandingan  hanya merupakan salah satu metode pengkajian naskah karena masih ada meode-metode lain yang harus di terapkan oleh filologi, yaitu penerapan naskah, penerapan teks, transliterasi, rekontruksi teks, dan penyutingan.
2.2 Metode Kritik Sastra Menurut Raminah Baribin
Dalam buku kritik & penilaian Sastra menurut Raminah Baribin ada beberapa metode kritik sastra. Di dalam buku ini akan di perbincangkan metode-metode kritik sastra yang di pergunakan (pernah di pergunakan) di dalam kesusastraan Indonesia. Metode kritik sastra itu antara lain:
2.2.1        Metode ‘Explication De Texte’
Kritik sastra dengan metode Explication de texte’merupakan gabungan penelitian ilmiah dan kritik yang seasli-aslinya. Ruang lingkupnya meliputi tiga hal yang secara hakiki berkenaan dengan sebuah karya, yakni:
§   Pengarang: bagaimana hubungan karya ini dengan karya-karyanya yang lain, dengan hidup pengarang sendiri, dan dengan jaman kehidupan pengarang itu;
§   Pengamatan yang teliti dan terperinci tentang naskah karya: bentuk susunan karya ini, gagasan atau pemikiran pokoknya, pandangan dan penjelasan tentang persoalan-persoalan bahasa yang di pergunakan, sindiran-sindiran, gambaran-gambaran, luapan hati, teknik penulisan, dan sebagainya;
§   Pengelompokan dan penggabungan pengamatan-pengamatan secara terperinci lengkap dengan penafsirannya. Disini kiranya perlu dicatat,bahwa pengertian pandangan yang analitik dan sintetik atau penggabungan berbagai penafsiran tidaklah terpisah satu sama lain.
Metode ‘explication de texte’ atau metode pengudaran naskah karya dapat di pandang menjadi dua tingkatan, yakni :
§   Pengarang : hubungan karya ini dengan karya-karya yang lain dengan hidup pengarang sendiri ,dengan jaman kehidupan pengarang itu sendiri.
§   Pengamatan : yang teliti dan terperinci tentang naskah karya, bentuk susunan karya ini atau pemikiran pokoknya.
§   Pengelompokan : penggabungan pengamatan-pengamatan secara terperinci lengkap dengan penafsiranya.
Metode ‘explication de text’ atau metode pengudaran naskah karya dapat di pandang menjadi dua tingkatan , yakni :
1.              Tingkat analitik dan pandangan
2.              Tingkat sintetik dan penafsiranya
Bagian ini memberikan keleluasaan dan kesempatan bagi setiap peneliti karya sastra untuk mengemukakan pandangan dan pendapat yang seasli-aslinya maupun sebaru-barunya.
2.2.2        Metode Dikhotomi
     Metode ini berlandaskan suatu pendapat bahwa karya sastra itu tersusun atas dua bagian yaitu bentuk dan isi. Adapun tentang apa yang di maksud dengan bentuk dan isi itu ada beberapa pendapat.
§   Dalam ‘Theory of Literatur’ (rene welk, 1956:140) dinyatakan bahwa isi adalah segala ide dan emosi yang terjelma dalam suatu cipta sastra (the ideas and emotions conveyed in a work of literatre); sedangkan bentuk adalah semua unsur linguistik yang bertindak menjelmakan isi (Boen Sri Ormarjati, 1962 : 12).
§   Benedette croce dalam bukunya ‘Aesthetic’ menyatakan, bahwa “dengan isi  di maksudkan kesan-kesan atau emosionalitet  yang tidak di kerjakan secara seksama dan tidak seara estetik, sedang dengan bentuk di maksudkan aktivitet intelektual dan ekspresif” ( Boen Sri Oemarjati, 1962 : 12).
2.2.3        Metode Phenomenologi Husserl
Edmond Husserl memandang suatu cipta sastra tidak hanya sebagai suatu sistem norma, melainkan juga sebagai suatu susunan lapis norma. Lapis-lapis norma tersebut berkaitan erat sekali, lapis yang satu menimbulkan lapis yang lain.
Husserl membedakan susunan norma-norma itu menjadi tiga lapis (strata) yaitu :  
1.      Lapis bunyi
2.      Lapis arti
3.      Lapis objek
Kemudian Roman  Ingarden, seorang filsuf polandia menambahkan dua lapis lagi, yang hakikatnya lapis-lapis itu tidak dapat di pisah-pisahkan, yaitu :
1.      Lapis sudut pandang tertentu tentang dunia, yang bersifat implisit; dan
2.      Lapis Metafisik (stratum of metaphysical qualities).
Metode phonemenologi Husserl ini sering di anggap sebagai suatu metode  yang lebih tepat, karena sesuai dengan wujud kenyataan karya sastra. Di dalam suatu karya sastra tertentu terutama puisi, lapis bunyi ini mempunyai kedudukan yang penting dan merupakan bagian internal dari efek estetik. Oleh karena itu tidak salah apabila orang mengatakan bahwa puisi – dan juga prosa liris – sebagai  suatu organisasi dari sistem bunyi bahasa (an organization of a language’s sound system).
Harus membedakan dua aspek unsur bunyi, yaitu :
1.    Unsur bunyi yang inherent, yaitu merupakan kekhususan tiap-tiap bunyi dan yang merupakan dasar efek musikalitas dan “euphony”.
2.    Unsur bunyi yang relasional, yang merupakan dasar irama dan metrum.
Di samping tugasnya sebagai pendukung arti, bunyi di dalam puisi berfungsi juga sebagai :
1.    Peniru bunyi, yang di sebut dengan istilah yunani ‘onomatopaeia’.
2.    Lambang rasa, yang di sebut dengan istilah belanda ‘klankzymboliek’.
3.    Kiasan suara, yang di sebut dengan istilah belanda ‘klankmetaphoor’
(Dr. Slametmulyana, 1956 : 61)
Di samping tiga fungsi tersebut, di dalam puisi bunyi berfungsi juga sebagai penghias puisi atau pembagus bentuk. Fungsi ini di laksanakan adanya pola-pola persajakan di dalam suatu puisi. Akan tetapi hal itu tidak berhenti, bahwa fungsi sajak semata-mata hanya sebagai anasir hiasan. Ada beberapa fungsi sajak yang lain yaitu :
1.      Sebagai alat penghubung  untuk mengeratkan kesatuan bagian-bagian dalam baris puisi, apabila berwujud persajakan yang sama.
2.      Sebagai alat memisahkan atau sebagai batas kesatuan bagian-bagian itu apabila berwujud pola persajakan yang berlainan.
3.      Sebagai daya evokasi, daya memancing timbulnya kata lain yang hampir serupa bunyinya (Dr. Slametmulyana 1956 : 80).
2.2.4        Metode Pendekatan Linguistik
     Metode pendekatan linguistik umumnya berlaku khusus dalam cipta sastra puisi. Drs. Umar yunus, dosen pada IKIP malang pusat, telah menulis sebuah kitab yang berjudul ‘Dasar-dasar Interpretasi Sajak’  (pendekatan linguistik).
§  Memahami suatu puisi tidak cukup hanya mencari interpretasi simbolik belaka dari kata-kata dalam puisi itu, melainkan harus dilandasi oleh suatu interpretasi berdasarkan keadaan struktur bahasa yang ada.
§  Unit sebuah puisi bukanlah kata, sebab apabila puisi hanya merupakan kata-kata yang di susun untuk mengutarakan suatu ide atau pikiran, maka sebenarnya tidak ada artinya baris, bait dan juga kalimat dalam suatu puisi.
§  Semua proses berfikir, termasuk penciptaan puisi, pasti menggunakan unit-unit bahasa.
§  Oleh karena puisi merupakan bentuk pengucapan yang padat, maka dalam proses pemindahan unit-unit itu ada suatu ‘penghilangan’ berbagai unsur bahasa yang ada.
§  Tugas seorang yang hendak memahami puisi ialah mengembalikan unsur-unsur yang di hilangkan. Pengembalian unsur-unsur itu seluruhnya di tentukan lingkungan struktural bahasa yang ada.
     Dalam lingkungan struktural bahasa itu termasuk juga persoalan hubungan antara unsur-unsur dalam puisi itu, yang antara lain berupa :
§  Persoalan penggunaan tanda baca.
§  Persoalan penggunaan huruf besar dan huruf kecil.
§  Bila tanpa tanda-tanda eksplisit, maka segala sesuatu di lihat dalam hubungan yang mungkin antara baris satu dengan baris lainya.
     Dengan demikian maka memahami puisi harus terlebih dahulu tentang :
§  Fungsi unit-unit dalam puisi dan
§  Persoalan tanda baca dan penggunaan huruf besar atau huruf kecil pada permulaan baris.
Berdasarkan pokok-pokok pikiran di atas, maka interpretasi sebuah puisi harus memperhatikan tiga hal :
1.    Unit-unit dalam sebuah puisi
2.    Hubungan antar unit dalam puisi itu
3.    Hubungan antara sebuah unit dalam puisi dengan sebuah unit dalam pengucapan bahasa biasa.
2.2.5        Metode Analitik
     Metode analitik menganalisis cipta sastra bagian demi bagian. Sebuah puisi di analisis mulai dari kata ,frase, larik, dan bait. (Dalam prosa mulai di analisis tema, plot, perwatakan, setting, dan gaya bahasa).jadi menganalisis unsur-unsur musikal, korespondensi, dan gaya yang digunakan pengarang.
 Metode analitik atau di sebut juga metode bedah karya sastra, mengutamakan bagian-bagian dulu dan barulah penghayatan totalitas
2.2.6        Metode Ganzheit
     Metode kritik ‘Ganzheit’  tidak tepat apabila di sebut sebagai salah satu metode analisis dalam kritik sastra, sebab macam kritik ini tidak menekankan ‘analisis’ dalam kerjanya.ia mempunyai cara tersendiri yang khas dalam pendekatan suatu cipta sastra atau cipta seni pada umumnya.
     Pada dewasa ini ada beberapa ilmu jiwa yang di cernakan dalam seni dengan hasil yang memuaskan. Dalam bidang kritik sastrapun tidak ketinggalan. Ilmu jiwa ‘Gestalt’  yang pertama kali di kemukakan oleh wilhelm Wundt (1832-1920) telah di pergunakan sebagai dasar landasan metode Ganzheit. Beberapa pengarang yang telah menulis tentang peranan ilmu jiwa Gestalt dengan seni antara lain ialah H.E. Roose (A Psychologi of Artistic Greation), Worner Wolff (The Expressions of Personaloty) dan Rudolf Arnheim (Gestalt and Art).
     Metode Ganzheit  dalam kritik seni ( Horizon, 1968 : 101). Ilmu jiwa Gestalt yang menjadi dasar metode Ganzheit itu pada azasnya memiliki dua prinsip (pokok pendirian) yaitu :
1.      Penghayatan terhadap sesuatu objek pertama sekali berupa keseluruhan. Dan keseluruhan (totalisme) itu memiliki sifat (kualitas) baru yang tidak sama dengan jumlah semua unsurnya.
2.      Penghayatan tiap manusia terhadap satu objek yang sama berbeda-beda sifat atau kualitasnya. Tiap penghayatan dari tiap manusia adalah unik, mewujudkan sifat keseluruhan yang berlain-lainan.
     Terhadap metode kritik Ganzheit ini telah timbul beberapa tanggapan, dan di antara tanggapan-tanggapan itu berupa keberatan-keberatan (Horizon, 1971 :68). Beberapa hal yang di pandang sebagai suatu keberatan atau sebagai suatu catatan dari metode kritik tersebut antara lain :
§  Metode kritik Ganzheit lebih mengutamakan pengalaman estetik dan bukan kepada fenomena sastra.
§  Tidak benar bahwa metode Analitik yang di pandang sebagai pertentangan metode kritik Ganzheit, mengutamakan analisa sebelum ada penghayatan totalitas. Metode analitik tidak akan membicarakan kata-kata terlepas dari konteks keseluruhan.
§  Metode kritik Ganzheit yang sangat subjektif itu terutama untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan seni modern yang lebih menekankan tendensi individuasi. Dengan demikian maka metode tersebut tidak dapat di terapkan untuk pendekaan pada semua cipta seni.
     Demikian beberapa  keberatan  terhadap metode kritik ganzheit. Akan tetapi walaupun demikian dengan munculnya metode tersebut kita telah diperkarya dengan tambahan satu macam cara dalam usaha pendekatan cipta sastra. Di samping itu kita dapat mengambil manfaat tentang betapa pentingnya kualitas totalitas sesuatu cipta seni dalam hubungan dengan unsur-unsurnya.







BAB 3
PENUTUP

3.1              Kesimpulan
Seperti teori-teori pendekaan sastra yang tidak boleh di pilih-pilih mana yang paling benar, metode kritik sastra pun tidak perlu di perdebatkan mana yang paling benar atau mana pula yang terbaik sebab setiap metode memiliki tugas dan fungsi yang relevan dengan tujuan tertentu dalam kritik satra.
3.2              Saran
1.      Pembaca dapat mengetahui metode-metode kritik sastra
2.      Pembaca dapat mngetahui pengertian metode kritik sastra menurut para ahli

































DAFTAR PUSTAKA

K.S, Yudiyono.2009. Pengkajian Kritik Sastra.Grasindo
K.S,Yudiono 1986: 52-56 Kritik Sastra Indonesia
Baribin.R. 2009. Kritik dan Penilaian Sastra.
Damono D.S.1978.Sosologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar