Rusli kembali mengenalkan kawannya yang bernama Anwar, seorang seniman bebas berideologi nihilis dan beranggapan bahwa “Tuhan adalah aku”. Pikiran bebas Anwar ikut menghancur leburkan iman Hasan yang akhirnya berujung pada pertengkaran keluarga. Ayah Hasan yang tetap kukuh pada agama Islam, mengusir Hasan yang telah menjadi Atheis. Setelah kembali ke Bandung, Hasan menikah dengan Kartini. Perasaan bersalah kepada keluarganya masih terus menghantui Hasan hingga mengubahnya menjadi pribadi yang temperamen. Diperparah dengan penyakit TBC nya yang sudah akut. Tiga tahun hidup bersama, Hasan memfitnah Kartini telah berselingkuh dengan Anwar. Hasan yang sudah terlanjur naik pitam, menceraikan Kartini dan pergi dari rumah.
Pada akhirnya, setelah menjadi Atheis hidup Hasan berantakan. Hubungan keluarga tidak terbina dengan baik, bahkan disaat terakhir Ayah Hasan hendak menghembuskan napas terakhirnya, Beliau berkata kepada Hasan: “Janganlah engkau dekat-dekat kepadaku…janganlah kauganggu aku dalam imanku…..”
Roman ini memiliki alur campuran dan tiga gaya naratif. Yang pertama adalah orang ketiga serba tahu karena menjelaskan kunjungan Rusli dan Kartini ke markas polisi Jepang setelah mendengar kabar kematian Hasan. Kemudian narator “Saya” sebgai orang pertama, menjelaskan saat ia berkenalan dengan Hasan hingga Hasan memberikan tulisah riwayat hidupnya. Yang terakhir yaitu “aku” (Hasan) yang menceritakan kesuluruhan isi tulisan riwayat hidupnya.
Achdiat Karta Mihardja adalah seorang sastrawan dan penulis Indonesia. Berpendidikan AMS-A Solo dan Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia. Ia bergabung dengan Partai Sosialis Indonesia yang dipimpin Sutan Sjahrir. Latar belakang ini digunakan untuk menulis Roman Atheis dari bulan Mei 1948 sampai Februari 1949.
Yang membuat Roman Atheis ini menarik adalah perselisihan ideologi yang terjadi. Ideologi Komunis Sosialis, Marxisme-Leninisme, nihilnisme, anarkisme, dan lainnya. Banyak pikiran-pikiran dari Tokoh yang dapat kita pelajari dan renungkan. Sayangnya, roman yang notabe sudah lama dan masih bergaya tulisan jaman dulu, mungkin tidak akan menarik bagi para remaja saat kini untuk membacanya. Padahal, meskipun hanya sebuah fiksi, roman ini dapat menambah wawasan kita mengenai perbedaan dan menjelaskan secara lebih mendalam tentang ideologi-ideologi tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar