Pengertian Membaca
Membaca adalah salah satu dari empat keterampilan
berbahasa. Dalam kegiatan membaca, kegiatan lebih banyak dititikberatkan pada
keterampilan membaca daripada teori-teori membaca itu sendiri.
Henry Guntur Tarigan menyebutkan tiga komponen dalam
keterampilan membaca, yaitu:
1.
Pengenalan
terhadap aksara-aksara serta tanda-tanda baca.
2.
Korelasi
aksara beserta tanda-tanda baca dengan unsur-unsur linguistik yang formal.
3.
Hubungan
lebih lanjut dari A dan B dengan makna1
Setiap guru bahasa haruslah menyadari serta memahami
benar-benar bahwa membaca adalah suatu metode yang dapat dipergunakan untuk
berkomunikasi dengan diri kita sendiri dan kadang-kadang dengan orang lain
yaitu mengomunikasikan makna yang terkandung atau tersirat pada lambang-lambang
tertulis.
Henry Guntur Tarigan berpendapat bahwa “Membaca adalah suatu proses yang dilakukan
serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan
oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis”2. Suatu proses yang menuntut agar
kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam pandangan
sekilas, dan agar makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Kalau
hal ini tidak terpenuhi, maka pesan yang tersurat dan yang tersirat tidak
akan tertangkap atau dipahami, dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan
baik.
Membaca dapat pula dianggap sebagai suatu proses untuk
memahami yang tersirat dalam yang tersurat, yakni memahami makna yang
terkandung di dalam kata-kata yang tertulis. Makna bacaan tidak terletak pada
halaman tertulis tetapi berada pada pikiran pembaca. Demikianlah makna itu akan
berubah, karena setiap pembaca memiliki pengalaman yang berbeda-beda yang
dipergunakan sebagai alat untuk menginterpretasikan kata-kata tersebut.
Dari segi linguistik, membaca adalah
suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and
decoding process), berlainan dengan berbicara dan menulis yang justru
melibatkan penyandian (encoding). Sebuah aspek pembacaan sandi (decoding)
menghubungkan kata-kata tulis (written word) dengan makna bahasa lisan (oral
language meaning) yang mencakup pengubahan tulisan / cetakan menjadi bunyi
yang bermakna. Membaca merupakan suatu penafsiran atau interpretasi
terhadap ujaran yang berada dalam bentuk tulisan adalah suatu proses pembacaan
sandi (decoding process).
Membaca adalah suatu proses yang bersangkut paut
dengan bahasa. Oleh karena itu maka para pelajar haruslah dibantu untuk
menanggapi atau memberi responsi terhadap lambang-lambang visual yang
menggambarkan tanda-tanda oditori dan berbicara haruslah selalu mendahului
kegiatan membaca.
Harimurti Kridalaksana mengatakan “Membaca adalah
menggali informasi dari teks, baik yang berupa tulisan maupun dari gambar atau
diagram maupun dari kombinasi itu semua”3
Soedarso berpendapat bahwa “Membaca adalah aktivitas
yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah,
meliputi orang harus menggunakan pengertian dan
khayalan, mengamati, dan mengingat-ingat”4.
DP. Tampubolon berpendapat bahwa “Membaca adalah
kegiatan fisik dan mental yang dapat berkembang menjadi suatu kebiasaan”5.
Bahkan ada pula beberapa penulis yang beranggapan
bahwa membaca adalah suatu kemauan untuk melihat lambang-lambang tertulis serta
mengubah lambang-lambang tertulis tersebut melalui suatu metode pengajaran
membaca seperti fonik (ucapan, ejaan berdasarkan interpretasi fonetik terhadap
ejaan biasa) menjadi membaca lisan.
Demikianlah makna itu akan berubah, karena setiap
pembaca memiliki pengalaman yang berbeda-beda yang dipergunakan sebagai alat
untuk menginterpretasikan kata-kata tersebut.
Daftar Pustaka
1.
Guntur
Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa (Bandung: Angkasa
1979) hlm. 10
2.
Ibid., hlm. 7
4.
Soedarso, Sistem
Membaca Cepat dan Efektif (Jakarta: PT. Gramedia 1989) hlm. 4
5.
DP.
Tampubolon, Kemampuan Membaca Teknik Membaca Efektif dan Efisien (Bandung:
Angkasa 1986) hlm. 228
a) Faktor struktur kalimat
b) Faktor anaphora
c) Faktor kekomplekan kalimat yang
menyangkut masalah transformasi kalimat.
d) Faktor Status-Ekonomi-Sosial (SES)
Kedudukan orang tua anak didik di tengah-tengah masyarakat, keadaan ekonomi
rumah tangga, dan lingkungan hidup anak didik adalah faktor yang tergolong SES.
Faktor ini telah dibuktikan lewat penelitian experimental yang berpengaruh
terhadap kemampuan membaca peserta didik. Penelitian yang dilakukan Hill dan
Giametto (1963), Carson dan Rabin (1960), dan Boykin (1955) menemukan bahwa
seseorang yang memiliki kondisi SES-nya baik ternyata kemampuan membacanya juga
lebih baik daripada seseorang yang memiliki kondisi SES-nya kurang baik.
Berdasarkan hasil penelitian ini berkembang semacam kesepakatan bahwa SES
adalah faktor dari luar diri seseorang yang berpengaruh terhadap proses belajar
membaca dan juga terhadap kemampuan memahami bacaan. (Farr, Roger, 1969,
Reading: What Can Be Measured?, Newark, Delaware: International Reading Association
Research Fund).
5. Faktor Bahan
Bacaan. Bahan bacaan sebagai faktor yang berpengaruh terhadap proses pemahaman
bacaan telah banyak dibuktikan dengan penelitian eksperimental. William Eller
bersama Judith G. Wolf dkk. sebagai kelompok sarjana mengemukakan bahwa (1).
Bahan yang disajikan secara dua arah (twesided presentation) lebih efektif
pengaruhnya daripada satu arah (one-sided presentation). (2). Penyajian satu
arah lebih efektif daripada yang dua arah sepanjang pembaca menyepakati sejak
semula gagasan yang terdapat dalam bacaan. Selain itu dari penelitian Katz dan
Lazarsteld (1955) menyimpulkan bahwa makin spesifik sifat sugesti isi bacaan
bertautan dengan kepribadian pembaca, makin kuat pula pengaruh sugesti itu.
Mengenai bahasa bacaan, Ruddell (1965) lewat eksperimennya menemukan bahwa
bahn bacaan yang struktur kalimatnya sama dengan unsur kalimat bahasa lisan
yang dikuasai siswa jauh lebih mudah dipahami daripada sebaliknya. Wilcox
(1964) menemukan bahwa siswa remaja lebih mudah memahami bacaan yang dilengkapi
denagn skema atau tabel. Dan Space bersama Space (1969) menemukan bahwa bahasa
bacaan dari pengarang yang sudah punya nama baik lebih mudah dipahami oleh
pembaca yang telah mengenal baik pengarang itu.
Studi tentang keterbacaan (readability) yang menghasilkan bermacam-macam formula keterbacaan seperti yang dikemukakan oleh Dalechall, Lorge, Space, dll. adalah bukti nyata dari peranan pengaruh bahasa bacaan itu. Sejalan dengan tujuan studi ini, secara eksperimental, Tylor (1953,1956) mencobakan penggunaan “cloze procedure” sebagai cara baru untuk menentukan keterbacaan. Dengan “cleze procedure” secara langsung dapat ditentukan apakah sebuah bacaan dapat dipahami dengan baik atau tidak oleh orang yang membacanya. Dengan kata lain dibuktikan pula secara eksperimentatif bahwa bahasa bacaan berpengaru terhadap prose pemahaman bacaan (Sadtono, E., Test Bahasa, Malang : Proyek PMPT-IKIP Malang)
Studi tentang keterbacaan (readability) yang menghasilkan bermacam-macam formula keterbacaan seperti yang dikemukakan oleh Dalechall, Lorge, Space, dll. adalah bukti nyata dari peranan pengaruh bahasa bacaan itu. Sejalan dengan tujuan studi ini, secara eksperimental, Tylor (1953,1956) mencobakan penggunaan “cloze procedure” sebagai cara baru untuk menentukan keterbacaan. Dengan “cleze procedure” secara langsung dapat ditentukan apakah sebuah bacaan dapat dipahami dengan baik atau tidak oleh orang yang membacanya. Dengan kata lain dibuktikan pula secara eksperimentatif bahwa bahasa bacaan berpengaru terhadap prose pemahaman bacaan (Sadtono, E., Test Bahasa, Malang : Proyek PMPT-IKIP Malang)
6. Faktor Guru.
Perilaku guru dalam membina anak didik dalam belajar membaca ternyat berpengaruh
besar dalam perilaku membaca sswa. Termasuk dalam perilaku mengajar positif
antara lain, (1)memahamai sudut pandang siswa, (2) memvariasikan situasi yang
memotivasi siswa beljara, (3) mengajukan pertanyaan yang efektif kepada siswa,
(4) menaajamkan pemahaman sisswa, dan (5) mencobakan gagasan baru dalam
pelaksaan pengajaran membaca. Sementara jenis-jenis pengetahuan guru yang
terbukti sifnifikan menurut hsil penelitian Goodson (1965), antara lain (1)
pengetahuan tentang penguasaan kosakata, (2) pengetahuan tentang mekanisme
membaca, (3) pengetahuan tentang selera baca siswa, (4) pengetahuan tentang
membaca kritis, dan (5) pengetahuan tentang pemahama literal dan interpretatif.
Berdasarkan keseluruhan uraian di muka serta sejumlah
hasil penelitian yang telah disajikan, dapat dirangkumkan sebuah kerangka teori
membaca dengna pkok pikiran sebagai berikut.
a) Membaca
adalah proses yag sangat rumit dan unik pula sifatnya. Rumit karena banyak
faktor yang yang bekerja dalam proses membaca serta unik karena relatif
berbedanya proses membaca itu berlangsung ada setiap pembaca.
b) Proses
membaca berlangsung sebagai bentuk respon pembaca terhadap tuturan tertulis
yang mestimulasinya.
c) Bacaan
sebagai stimulant, dalam wajh permukaanya berua paparean bahasa tulis yang
terususn dari material bahasa, tertata dalam tatatuturan tertentu dan tertulis
menurut tata penulisan yang berlaku.
d) Respon aktif
pembaca yang berupa proses membaca mencakup berbagai kegiatan mental yang
secara keseluruhannya meeruakan kegiatan mengolah bacaan itu.
e) Kelancaran
dan keberhasilan pembaca dalam membaca dipengaruhi beberapa faktor baik dari
dalam diri pembaca sendiri maupun berasal dari luar.
MASALAH PENGAJARAN MEMBACA DAN PEMBINAANYA
1. HAKEKAT,
KEDUDUKAN DAN FUNGSI PENGAJARAN MEMBACA
Pengajaran membaca pada hakekatnya adalah perangkat
usaha formal–konvensional yang dilakukan secara sadar berencana untuk membina
siswa dalam membaca. Rumusan ini menggambarkan banyak hal. Pertama, pengajaran membaca
mencakup berbagai usaha yang saling bertaut satu dan lainnya. Kedua pengajaran
membaca merupakan usaha formal yaitu usaha resmi yang melembaga sifatnya dalam
bidang pendidika. Selain formal, pengajaran membaca juga merupaka usaha yang
konvensional yaitu usaha yang selama ini biasa serta umum ditempuh dalam bidang
pendidikan. Lawannya adalah usaha informal dan inkonvensional. Ketiga,
pengajaran membaca dilakukan secara sadar dalam arti ada tujuan yang dicapai.
Kedudukan pengajaran membaca dalam pendidikan di satu pihak sebagai integral, yaitu bagian tak dapat dipisahkan dari keutuhan pendidikan. Dipihak lain pengajaran membaca berkedudukan sebagai alat dan media fungsional. Yaitu alat dan media yang memunyai tersendiri dalam keseluruahn kegiatan pendidikan. Kedudukan pengajaran membaca diliahat dalam konteks pengajaran bahasa.
Kedudukan pengajaran membaca dalam pendidikan di satu pihak sebagai integral, yaitu bagian tak dapat dipisahkan dari keutuhan pendidikan. Dipihak lain pengajaran membaca berkedudukan sebagai alat dan media fungsional. Yaitu alat dan media yang memunyai tersendiri dalam keseluruahn kegiatan pendidikan. Kedudukan pengajaran membaca diliahat dalam konteks pengajaran bahasa.
Sejalan dengan kedudukannya, maka fungsi pengajaran
membaca di satu pihak menjaga keutuhan, kehadiran pendidikan dan pengajaran
bahasa khususnya. Fungsi ini sering pula disebut fungsi edukatif. Fungsi yang
lain adalah fungsi tambahan dan pelengkap berupa fungsi sosial dan fungsi
instrumental. Fungsi sosial, ikut mempertahanka kehadiran membaca dalam
kehidupan manusia. Fungsi instrumental pengajaran membaca dapat diamati pada
pemanfaatan pengajaran membaca sebagai ajang penerapan hasil penelitian.
2. TUGAS DAN
TUJUAN UMUM PENGAJARAN MEMBACA
Tugas pokok pengajaran membaca ialah membina siswa
dalam bidang membaca. Membina siswa agar memiliki kemampuan yang dalam membaca.
Yaitu memberikan respon yang tepat terhadap bacaan. Termasuk (1) memberikan
respon komunikatif terhadap kalimat yang diamati (2) memberikan respon
interpretatif terhadap hal-hal yang tersimpan dibalik permukaan bacaan, (3)
memberikan respon evaluative-imajinatif terhadap keselurahan bacaan, yaitu
kemampuan menilai, kesahihan, kebenaran dan kebergunaan bacaan.
Bagian kedua dari tugas pokok pengajaran membaca ialah
membina pengetahuan siswa tentang membaca yaitu meliputi (1) tentang dan fungsi
membaca, (2) tentang cara membaca untuk suatu tujuan. Bagian ketiga, membina
siswa agar mereka memiliki sikap positif terhadap belajar membaca di satu pihak
dan di pihak lain.
Tujuan tamabahan ialah berpartisipasi dalam usaha
memasyarakatkan dan mem-budayakan membaca serta memanfaatkan dan merangsang
studi dan penelitian membaca.
3. MACAM-MACAM
PENGAJARAN MEMBACA.
Yang selama ini dikembangkan di Indonesia ialah:
a) Pengajaran membaca permulaan.
Disajikan kepada siswa SD yang bertujuan membinaka dasar mekanisme membaca.
b) Pengajaran membaca nyaring. Misalnya
membaca suatu kutipan.
c) Pengajaran membaca dalam hati.
Membina siswa agar mampu membaca tanpa suara dan mampu memahami isi bacaan.
d) Pengajaran membaca pemahaman. Dalam
praktiknya sama dengan membaca dalam hati.
e) Pengajaran membaca bahasa. Merupakan
alat dari pengajaran bahasa. Khusus memahami bahasa.
f) Membaca
pustaka. Membaca yang berkaitan dengan tentang yang dicari, dengan kata lain
mencari dasar.
g) Pengajaran membaca teknik.
Memusatkan perhatian siswa untuk menguasai teknik membaca yang dipandang patut.
h) Membaca kreatif. Bisa menghasilkan
karya ilmiah setelah membaca suatu buku.
Berdasarkan tujuannya pengajaran membaca dibedakan menjadi tiga yaitu;
Pertama, pengajaran membaca pengembangan, kemampuan menguasai mekanisme membaca dan kemampuan memahami bacaan secara komperhensif. Yang kedua, pengajaran membaca fungsional, yang bertujuan membina kemampuan siswa menggunakan membaca sebagai alat belajar dalam arti kata yang seluas-luasnya. Ketiga, pengajaran membaca rekreasional, bertujuan membina minat baca siswa, selera bacaannya dan daya apresiasinya.
Berdasarkan tujuannya pengajaran membaca dibedakan menjadi tiga yaitu;
Pertama, pengajaran membaca pengembangan, kemampuan menguasai mekanisme membaca dan kemampuan memahami bacaan secara komperhensif. Yang kedua, pengajaran membaca fungsional, yang bertujuan membina kemampuan siswa menggunakan membaca sebagai alat belajar dalam arti kata yang seluas-luasnya. Ketiga, pengajaran membaca rekreasional, bertujuan membina minat baca siswa, selera bacaannya dan daya apresiasinya.
4. PRINSIP-PRINSIP
PENGAJARAN MEMBACA
Dalam membina pelaksanaan pengajaran membaca di
lembaga pendidikan, ada sejumlah prinsip pengajaran membaca yang dapat
dipedomani oleh para guru. Beberapa prinsip pengajaran membaca yang patut
diketahui oleh pata guru:
Ø Belajat
membaca ialah suatu proses yang sangat rumit dan sangat peka sifatnya terhadap
berbagai pengaruh dari luar yang menekan.
Ø Belajar
membaca pada hakekatnya adalah proses belajar yang bersifa perseorangan.
Ø Pengajaran
membaca yang baik adalah pengajaran membaca yang memanfaatkan dengan tepat
hasil diagnosis kesulitan belajar.
Ø Belajar
membaca hanya mungkin berlangsung lancar dan berhasil baik jika bahan pelajaran
yang disajikan sesuai.
Ø Membaca pada
hakekatnya adalah proses memahami dan memberi makna kepada tuturan tertulis
yang dibaca.
Ø Dalam
pengajaran membaca tidak satupun cara yang super sifatnya.
Ø Konsep
kesiapan membaca tidak hanya berlaku pada pengajaran membaca permulaan.
Ø Pengajaran
membaca harus membina siswa mengusai kunci-kunci membaca.
5. PEMBINAAN
PENGAJARAN MEMBACA
Pengajaran membaca yang selama ini dilaksanakan di lembaga-lembaga
pendidikan Indonesia pada dasarnya ialah pelajaran membaca tradisional, sebagai
salah satu sistem pengajaran membaca pengajaran membaca tradisional banyak
kelemahan dan kekuranganya. Beberapa diantaranya ialah:
·
Pengertian
membaca yang diikuti dalam pengajaran membaca tradisional adalah pengertian
yang sempit, yang mengandung arti membaca ialah proses menangkap makna dari
bahan baacaan.
·
Pemusatan
pengajaran membaca tradisional ialah membina siswa belajar agar mereka dapat membaca,
bukan untuk mendapatkan suatu pengetahuan dari proses membaca.
·
Pengajaran
membaca ini biasanya memandang anak didik dalam kondisi yang sama, padahal
terdapat perbedaan signifikan antara anak yang satu dengan anak yang lain, baik
dari segi fisik maupun psikis.
·
Pengajaran
membaca ini cenderung sebagai pengajaran yang berdiri sendiri, diisolasi (
tidak terpengaruh) dari jenis-jenis membaca lainya.
·
Para
pendidik yang menerapkan pengajaran membaca tradisional pada umumnya kurang
memiliki pengetahuan serta wawasan yang luas tentang masalah membaca dan
pengajaranya.
Dalam pengajaran membaca tradisional dengan pelbagai kelemahanya dan
kekuranganya mempunyani banyak tantangan untuk mempertahankanya, yaitu:
v Kemampuan
membaca yang dibutuhkan masyarakat modern ( komprehensif), yaitu membaca dengan
kemampuan yang baik, dapat memahami, menilai, manfaatkan, dan memecahkan
masalah dalam kehidupan, setelah adanya proses membaca.
v Perkembangan
ilmu pengetahuan dak teknologi
v Kemajuan
membaca dan pengajaranya
v Tuntutan
pendidikan modern
v Ledakan
populasi siswa
Untuk menghadapi kelima tantangan di atas, pembinaan yang patut dilakukan
ialah pembinaan yang berfungsi ganda yaitu menghilangkan kelemahan-kelemahan
pengajaran membaca tradisional disatu pihak dan secara langsung atau tidak
dapat memberikan solusi tentang masalah yang dihadapi dalam pengajaran membaca.
Sumber : http://muntijo.wordpress.com/2011/07/07/pengertian-membaca-dan-pengajarannya/ diunduh tanggal 2/1/2012 10:22
DEFINISI MEMBACA
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: pembaca adalah
melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis, baik dengan melisankan
(meng-ucapkan) maupun hanya dalam hati.
Berdasarkan definisi di atas, kita dapat mengatakan bahwa membaca merupakan suatu proses perubahan bentuk lambang (tulisan) menjadi wujud makna.
Berdasarkan definisi di atas, kita dapat mengatakan bahwa membaca merupakan suatu proses perubahan bentuk lambang (tulisan) menjadi wujud makna.
Membaca merupakan kegiatan yang
tersusun dari 4 komponen: strategi, kelancaran, pembaca, dan teks. Strategi
adalah kemampuan pembaca menggunakan beragam strategi untuk mencapai tujuan
dalam membaca. Kelancaran ialah kemampuan membaca dengan kecepatan tertentu
dengan pemahaman yang cukup. Gabungan dari teks, strategi, kelancaran, dan
pembaca ini yang disebut membaca (Anderson, 2003:68). Pemahaman dalam hal ini
merupakan tujuan dari membaca.
Ada dua aspek dalam pengajaran membaca. Aspek
pertama, merujuk pada pengajaran membaca untuk pertama kali. Kedua,
mengajar membaca bagi mereka yang telah memiliki keterampilan membaca dalam
bahasa pertamanya (L1). Karena itu, menurut Anderson, kalau sudah dapat
membaca dalam satu bahasa maka tidak perlu belajar baca dalam bahasa asing
lainnya (L2), tetapi hanya perlu mentransfer keterampilan untuk membaca konteks
baru dalam bahasa lain (tapi kita akan melihat kendala dari pernyataan ini.
Baca sub Kendala Membaca: Tantangan Solusi)
Proses Baca
Ada tiga model kategori dalam proses membaca: 1) model
bawah-atas (buttom-up model), 2) model atas-bawah (up-down model), dan 3) model
interaktif (interactive model). Model bawah-atas, biasanya terdiri atas
proses-proses baca pada level terendah. Dalam hal ini siswa membaca mulai
dengan dasar pengenalan tulisan dan bunyi yang kemudian merekognisi morfem,
kata, identifikasi struktur gramatikal, kalimat, lalu teks.
Tujuan Umum Membaca
Tujuan membaca, secara umum, adalah mengerti dan
memahami makna atau arti yang terkandung dalam bacaan tersebut. Dengan mengerti
dan memahami makna yang terkandung dalam bacaan tersebut, maka dapat menambah
pengetahuan si pembaca tentang masalah yang tertuang di dalamnya.
Membaca sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan membaca kita dapat memperoleh berbagai pengetahuan. Banyak pengetahuan
yang ditulis atau dituangkan dalam bentuk tulisan, baik dalam buku-buku, surat
kabar, majalah, ataupun dalam media tulis lainnya.
Sumber : http://id.shvoong.com/humanities/linguistics/2213859-pengertian-membaca/ diunduh
tanggal 2/1/2012
MEMBACA,
Baca – Kegiatan membaca bersama antara
anak dan orang tua berpengaruh terhadap sikap dan minat membaca anak. Melalui
program membaca bersama antara orang tua dan anak, anak-anak jadi suka mengisi
waktu luangnya dengan aktivitas membaca, mereka suka membaca bersama orang
dewasa yang lain, suka membaca majalah dan buku-buku yang ada di rumah dan di
perpustakaan sekolah. Buku-buku dan perlengkapan membaca merupakan dukungan
instrumental untuk mendidik anak, program pelatihan untuk orang tua agar terlibat
secara efektif dalam program membaca keluarga merupakan dukungan informatif
yang sangat berguna bagi orang tua untuk memberikan dukungan penghargaan dan
emosi kepada anak saat mereka membaca bersama.
Banyak cara yang ditempuh agar seseorang memperoleh pengetahuan.
Salah satunya yang paling sering dilakukan adalah melalui membaca. Ini
tampaknya lebih menekankan pengertian membaca sebagai kegiatan seseorang untuk
memperoleh pengetahuan melalui sumber-sumber tekstual, seperti buku, artikel,
koran dan sebagainya, dengan menggunakan mata atau pandangan sebagai alat
utamanya. Jika diperluas lagi, pengertian membaca di sini sebenarnya tidak
hanya persepsi visual terhadap bentuk rangkaian kata-kata (verbal) tetapi juga
dapat berbentuk simbol-simbol lainnya, seperti angka, gambar, diagram, tabel
yang di dalamnya memiliki arti dan maksud tertentu.
Yang dimaksud membaca ialah
menangkap pikiran dan perasaan orang lain dengan perantaraan tulisan (gambar
dari bahasa yang dilisankan). Tujuannya ialah menangkap bahasa yang tertulis
dengan tepat dan teratur.
Melalui aktivitas membaca, seseorang dapat mengenal
suatu objek, ide prosedur konsep, definisi, nama, peristiwa, rumus, teori, atau
kesimpulan. Bahkan lebih dari itu, melalui aktivitas membaca seseorang dapat
mencapai kemampuan kognitif yang lebih tinggi, seperti menjelaskan,
menganalisis, hingga mengevaluasi suatu objek atau kejadian tertentu.
Minat baca berbanding lurus dengan kemajuan suatu
bangsa. Bangsa yang besar minat bacanya pastilah bangsa yang maju. Mereka akan
membaca dalam setiap kesempatan contohnya terlihat tidak hanya dalam
perpustakaan umum dan pribadi tetapi juga di stasiun, di kereta,dan dalam
perjalanan pun mereka membaca.
Membaca adalah kunci ke gudang ilmu. Ilmu yang
tersimpan dalam buku harus digali dan dicari melalui kegiatan membaca.
Keterampilan membaca menentukan hasil penggalian ilmu itu. Karena itu dapat
dikatakan keterampilan membaca sangat diperlukan dalam dunia modern.
Sedangkan makna dari membaca adalah menduga,
memperhitungkan, dan memahami. Berdasarkan arti membaca tersebut, pengertian
membaca mencakup dua hal. Pengertian yang pertama yaitu membaca teks-teks yang
terurai dari huruf demi huruf kemudian membentuk kata lalu terangkai dalam
kalimat dan padu dalam paragraf. Pengertian yang kedua yaitu membaca
fenomena-fenomena yang terjadi di alam semesta. Membaca sesuai pengertian ini
misalnya memikirkan bagaimana terjadinya siang dan malam, peredaran planet
mengelilingi matahari, dan penciptaan mahkluk.
Terdapat beberapa alasan mengapa kita harus senantiasa
membaca. Pertama, membaca sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan. Kedua,
membaca merupakan sarana pergaulan. Ketiga, membaca merupakan salah satu
sarana hiburan. Keempat, membaca dapat mendatangkan rezeki. Kelima,
membaca dapat menjadi sarana mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa. Keenam,
membaca sebagai sarana koreksi diri.
Membaca adalah aktivitas memahami, menafsirkan,
mengingat, lalu yang terakhir adalah menuliskannya kembali berdasarkan analisis
fikiran kita sendiri.
Menurut Pawit M. Yusuf dalam kegiatan seminarnya
tentang Indeks Baca di Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu
Komunikasi Universitas Padjajaran, membaca adalah berfikir. Tidak ada manusia
yang hidup tanpa berfikir, karena sebagai mahkluk sosial ia selalu menghadapi
berbagai masalah yang perlu dipecahkan.
Apa yang diketahui orang melalui kegiatan membaca pada
hakikatnya adalah informasi. Artinya dengan membaca ia mendapatkan sejumlah
informasi yang dalam keadaan tertentu bisa mempengaruhi sikap dan pandangan-pandangannya
tentang perilaku kehidupannya. Sikap bisa berubah karena adanya terpaan
informasi, kata Krech, dkk, (1968). Demikian pula kata Dwyer (1978) bahwa
perilaku manusia bisa berubah karena membaca, meskipun membaca sebenarnya bukan
satu-satunya faktor yang turut mempengaruhi sikap seseorang.
Melalui membaca orang bisa menjelajahi batas-batas
ruang dan waktu. Peristiwa-peristiwa yang jauh terjadinya di masa lampau bisa
diketahui melalui membaca. Demikian pula pristiwa yang terjadi di berbagai tempat
di dunia ini bisa diketahui melalui membaca. Dengan demikian yang namanya
membaca mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Adalah hal keliru jika memandang aktifitas membaca
seolah-olah hanya “milik orang-orang sekolahan”, sehingga orang-orang yang
tidak bersekolah dianggap tidak perlu lagi melakukan aktifitas membaca. Membaca
pada dasarnya milik semua orang dan siapapun dapat melakukannya. Demikian juga
dengan bahan yang dibacanya, tidak hanya berhubungan dengan hal-hal yang “serba
serius”, dalam arti memerlukan proses kognisi tingkat tinggi, tetapi juga dapat
berupa hal-hal yang ringan dan sederhana untuk sekedar memenuhi rasa ingin tahu
seseorang, misalnya untuk memperoleh informasi tentang hasil pertandingan sepak
bola, atau peristiwa-peristiwa lainnya yang terjadi pada suatu saat tertentu.
Di dalam buku Menjadi Guru Merdeka terjemahan dari A
Pedagogy For Liberation Dialogues On Transforming Education, karangan Ira Shor
dan Paulo Freire, makna membaca menurut Paulo Freire bukan sekedar
berjalan atau melayang di atas lintasan kata-kata. Membaca adalah
menuliskan kembali apa yang dibaca. Membaca adalah menemukan hubungan
antara teks dan konteks dari teks bersangkutan, dan bagaimana menghubungkan
antara teks atau konteks dengan konteks pembacanya.
Di Amerika pada masa lampau, kecepatan membaca perlu
diukur, bahkan sampai dibuatkan rumus segala. Membaca seolah suatu kegiatan
yang perlu kecepatan, seperti seorang berlari menuju finish. Namun dalam
perkembangan selanjutnya, ternyata kecepatan membaca itu tidak harus selalu
sama, tetapi fleksibel. Adakalanya kita harus cepat, adakalanya perlu
memperlambat atau bahkan berhenti sebentar, lalu cepat lagi.
Kecepatan membaca sebenarnya tergantung pada tujuan
membaca. Sutrisno menyatakan bahwa ada kebiasaan yang kurang baik yang sering
dilakukan sampai dewasa ketika membaca yaitu:
a.
Vokalisasi.
Membaca dengan bersuara sangat memperlambat membaca karena mengucapkan kata
demi kata dengan lengkap.
b.
Gerakan
Bibir. Menggerakkan bibir sewaktu membaca, sekalipun tidak mengeluarkan suara,
sama lambatnya dengan membaca bersama. Kecepatan membaca bersuara ataupun
dengan gerakan bibir hanya seperempat dari kecepatan membaca diam.
c.
Menunjuk
dengan Jari. Untuk menunjuk agar tidak ada kata-kata yang terlewati maka kita
melakukan dengan bantuan jari atau pensil menunjuk kata demi kata. Cara
tersebut sebenarnya harus kita tinggalkan karena tidak memberi kepercayaan
kepada mata dan otak.
d.
Regresi atau
Mengulang. Kebiasaan selalu kembali ke belakang untuk melihat kata yang baru
dibaca itu menghambat serius dalam membaca.
e.
Gerakan
Kepala. Semasa anak-anak penglihatan kita memang masih sulit menguasai seluruh
penampang bacaan, akibatnya kita menggerakkan kepala dari kiri ke kanan untuk
dapat membaca baris-baris bacaan secara lengkap. Setelah dewasa, penglihatan
kita telah mampu secara optimal sehingga cukup mata saja yang bergerak.
Ada dua kelompok besar faktor yang mempengaruhi minat
membaca anak, yaitu faktor personal dan faktor institusional. Faktor
personal adalah yang ada dalam diri anak, yaitu meliputi usia, jenis
kelamin, intelegensi, kemampuan membaca, sikap dan kebutuhan psikologis.
Sedangkan faktor institusional adalah faktor-faktor diluar diri anak,
yaitu meliputi ketersediaan jumlah buku-buku bacaan dan jenis-jenis bukunya,
status sosial ekonomi orang tua dan latar belakang etnis, kemudian pengaruh
orang tua, guru dan teman sebaya anak.
Ada banyak kiat yang dapat dilakukan untuk
menumbuhkan minat baca siswa, antara lain:
a.
Memperkenalkan
buku-buku. Cara ini dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran maupun guru
perpustakaan. Buku yang diperkenalkan dapat berupa fiksi dan nonfiksi.
b.
Memperkenalkan
hasil karya sastrawan. Sastrawan tenar di Indonesia banyak sekali, misalnya,
Umar Kayam, Y.B. Mangun Wijaya, Rendra, Taufik Ismail dan lain-lain.
c.
Pameran
buku, biasanya dapat dilaksanakan dengan bekerja sama antara toko buku atau
penerbit.
d.
Majalah
dinding hingga dewasa ini masih merupakan media sederhana untuk berekspresi,
berkreasi, dan bereksplorasi. Majalah dinding dapat menjadi media kelas dan
sekolah.
Posted on 16/12/2008 by pencilbooks
Klein, dkk. (dalam Farida Rahim,
2005: 3) mengemukakan bahwa definisi membaca mencakup: pertama,
membaca merupakan suatu proses. Maksudnya adalah informasi dari
teks dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca mempunyai peranan yang utama
dalam membentuk makna. Kedua, membaca adalah strategis.
Pembaca yang efektif menggunakan berbagai strategi membaca yang sesuai dengan
teks dan konteks dalam rangka mengonstruk makna ketika membaca. Strategi ini
bervariasi sesuai dengan jenis teks dan tujuan membaca. Ketiga,
membaca merupakan interaktif. Keterlibatan pembaca dengan teks tergantung pada
konteks. Orang yang senang membaca suatu teks yang bermanfaat, akan menemui
beberapa tujuan yang ingin dicapainya, teks yang dibaca seseorang harus mudah
dipahami (readable) sehingga terjadi interaksi antara pembaca dan teks.
Sumber : http://pencilbooks.wordpress.com/2008/12/16/pengertian-membaca/ diunduh
tanggal 2/1/2012 1049
Tidak ada komentar:
Posting Komentar