Selasa, 21 Juni 2016

Membaca



Pengertian Membaca


Membaca adalah salah satu dari empat keterampilan berbahasa. Dalam kegiatan membaca, kegiatan lebih banyak dititikberatkan pada keterampilan membaca daripada teori-teori membaca itu sendiri.
Henry Guntur Tarigan menyebutkan tiga komponen dalam keterampilan membaca, yaitu:
1.      Pengenalan terhadap aksara-aksara serta tanda-tanda baca.
2.      Korelasi aksara beserta tanda-tanda baca dengan unsur-unsur linguistik yang formal.
3.      Hubungan lebih lanjut dari A dan B dengan makna1
Setiap guru bahasa haruslah menyadari serta memahami benar-benar bahwa membaca adalah suatu metode yang dapat dipergunakan untuk berkomunikasi dengan diri kita sendiri dan kadang-kadang dengan orang lain yaitu mengomunikasikan makna yang terkandung atau tersirat pada lambang-lambang tertulis.
Henry Guntur Tarigan berpendapat bahwa “Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis”2. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam pandangan sekilas, dan agar makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, maka pesan yang tersurat dan yang  tersirat tidak akan tertangkap atau dipahami, dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik.
Membaca dapat pula dianggap sebagai suatu proses untuk memahami yang tersirat dalam yang tersurat, yakni memahami makna yang terkandung di dalam kata-kata yang tertulis. Makna bacaan tidak terletak pada halaman tertulis tetapi berada pada pikiran pembaca. Demikianlah makna itu akan berubah, karena setiap pembaca memiliki pengalaman yang berbeda-beda yang dipergunakan sebagai alat untuk menginterpretasikan kata-kata tersebut.
Dari segi linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and decoding process), berlainan dengan berbicara dan menulis yang justru melibatkan penyandian (encoding). Sebuah aspek pembacaan sandi (decoding) menghubungkan kata-kata tulis (written word) dengan makna bahasa lisan (oral language meaning) yang mencakup pengubahan tulisan / cetakan menjadi bunyi yang  bermakna. Membaca merupakan suatu penafsiran atau interpretasi terhadap ujaran yang berada dalam bentuk tulisan adalah suatu proses pembacaan sandi (decoding process).
Membaca adalah suatu proses yang bersangkut paut dengan bahasa. Oleh karena itu maka para pelajar haruslah dibantu untuk menanggapi atau memberi responsi terhadap lambang-lambang visual yang menggambarkan tanda-tanda oditori dan berbicara haruslah selalu mendahului kegiatan membaca.
Harimurti Kridalaksana mengatakan “Membaca adalah menggali informasi dari teks, baik yang berupa tulisan maupun dari gambar atau diagram maupun dari kombinasi itu semua”3
Soedarso berpendapat bahwa “Membaca adalah aktivitas yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah, meliputi orang harus menggunakan pengertian dan khayalan, mengamati, dan mengingat-ingat”4.
DP. Tampubolon berpendapat bahwa “Membaca adalah kegiatan fisik dan mental yang dapat berkembang menjadi suatu kebiasaan”5.
Bahkan ada pula beberapa penulis yang beranggapan bahwa membaca adalah suatu kemauan untuk melihat lambang-lambang tertulis serta mengubah lambang-lambang tertulis tersebut melalui suatu metode pengajaran membaca seperti fonik (ucapan, ejaan berdasarkan interpretasi fonetik terhadap ejaan biasa) menjadi membaca lisan.
Demikianlah makna itu akan berubah, karena setiap pembaca memiliki pengalaman yang berbeda-beda yang dipergunakan sebagai alat untuk menginterpretasikan kata-kata tersebut.

Daftar Pustaka

1.      Guntur Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa (Bandung: Angkasa 1979) hlm. 10
2.      Ibid., hlm. 7
3.      Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik (Jakarta: Gramedia 1984) hlm. 122
4.      Soedarso, Sistem Membaca Cepat dan Efektif (Jakarta: PT. Gramedia 1989) hlm. 4
5.      DP. Tampubolon, Kemampuan Membaca Teknik Membaca Efektif dan Efisien (Bandung: Angkasa 1986) hlm. 228

Sumber : http://arisandi.com/?p=317  diunduh tanggal 2 Januari 2012 9:47

a)      Faktor struktur kalimat
b)      Faktor anaphora
c)      Faktor kekomplekan kalimat yang menyangkut masalah transformasi kalimat.
d)     Faktor Status-Ekonomi-Sosial (SES)
Kedudukan orang tua anak didik di tengah-tengah masyarakat, keadaan ekonomi rumah tangga, dan lingkungan hidup anak didik adalah faktor yang tergolong SES. Faktor ini telah dibuktikan lewat penelitian experimental yang berpengaruh terhadap kemampuan membaca peserta didik. Penelitian yang dilakukan Hill dan Giametto (1963), Carson dan Rabin (1960), dan Boykin (1955) menemukan bahwa seseorang yang memiliki kondisi SES-nya baik ternyata kemampuan membacanya juga lebih baik daripada seseorang yang memiliki kondisi SES-nya kurang baik. Berdasarkan hasil penelitian ini berkembang semacam kesepakatan bahwa SES adalah faktor dari luar diri seseorang yang berpengaruh terhadap proses belajar membaca dan juga terhadap kemampuan memahami bacaan. (Farr, Roger, 1969, Reading: What Can Be Measured?, Newark, Delaware: International Reading Association Research Fund).
5.        Faktor Bahan Bacaan. Bahan bacaan sebagai faktor yang berpengaruh terhadap proses pemahaman bacaan telah banyak dibuktikan dengan penelitian eksperimental. William Eller bersama Judith G. Wolf dkk. sebagai kelompok sarjana mengemukakan bahwa (1). Bahan yang disajikan secara dua arah (twesided presentation) lebih efektif pengaruhnya daripada satu arah (one-sided presentation). (2). Penyajian satu arah lebih efektif daripada yang dua arah sepanjang pembaca menyepakati sejak semula gagasan yang terdapat dalam bacaan. Selain itu dari penelitian Katz dan Lazarsteld (1955) menyimpulkan bahwa makin spesifik sifat sugesti isi bacaan bertautan dengan kepribadian pembaca, makin kuat pula pengaruh sugesti itu.
Mengenai bahasa bacaan, Ruddell (1965) lewat eksperimennya menemukan bahwa bahn bacaan yang struktur kalimatnya sama dengan unsur kalimat bahasa lisan yang dikuasai siswa jauh lebih mudah dipahami daripada sebaliknya. Wilcox (1964) menemukan bahwa siswa remaja lebih mudah memahami bacaan yang dilengkapi denagn skema atau tabel. Dan Space bersama Space (1969) menemukan bahwa bahasa bacaan dari pengarang yang sudah punya nama baik lebih mudah dipahami oleh pembaca yang telah mengenal baik pengarang itu.
Studi tentang keterbacaan (readability) yang menghasilkan bermacam-macam formula keterbacaan seperti yang dikemukakan oleh Dalechall, Lorge, Space, dll. adalah bukti nyata dari peranan pengaruh bahasa bacaan itu. Sejalan dengan tujuan studi ini, secara eksperimental, Tylor (1953,1956) mencobakan penggunaan “cloze procedure” sebagai cara baru untuk menentukan keterbacaan. Dengan “cleze procedure” secara langsung dapat ditentukan apakah sebuah bacaan dapat dipahami dengan baik atau tidak oleh orang yang membacanya. Dengan kata lain dibuktikan pula secara eksperimentatif bahwa bahasa bacaan berpengaru terhadap prose pemahaman bacaan (Sadtono, E., Test Bahasa, Malang : Proyek PMPT-IKIP Malang)
6.        Faktor Guru. Perilaku guru dalam membina anak didik dalam belajar membaca ternyat berpengaruh besar dalam perilaku membaca sswa. Termasuk dalam perilaku mengajar positif antara lain, (1)memahamai sudut pandang siswa, (2) memvariasikan situasi yang memotivasi siswa beljara, (3) mengajukan pertanyaan yang efektif kepada siswa, (4) menaajamkan pemahaman sisswa, dan (5) mencobakan gagasan baru dalam pelaksaan pengajaran membaca. Sementara jenis-jenis pengetahuan guru yang terbukti sifnifikan menurut hsil penelitian Goodson (1965), antara lain (1) pengetahuan tentang penguasaan kosakata, (2) pengetahuan tentang mekanisme membaca, (3) pengetahuan tentang selera baca siswa, (4) pengetahuan tentang membaca kritis, dan (5) pengetahuan tentang pemahama literal dan interpretatif.
Berdasarkan keseluruhan uraian di muka serta sejumlah hasil penelitian yang telah disajikan, dapat dirangkumkan sebuah kerangka teori membaca dengna pkok pikiran sebagai berikut.
a)        Membaca adalah proses yag sangat rumit dan unik pula sifatnya. Rumit karena banyak faktor yang yang bekerja dalam proses membaca serta unik karena relatif berbedanya proses membaca itu berlangsung ada setiap pembaca.
b)        Proses membaca berlangsung sebagai bentuk respon pembaca terhadap tuturan tertulis yang mestimulasinya.
c)        Bacaan sebagai stimulant, dalam wajh permukaanya berua paparean bahasa tulis yang terususn dari material bahasa, tertata dalam tatatuturan tertentu dan tertulis menurut tata penulisan yang berlaku.
d)       Respon aktif pembaca yang berupa proses membaca mencakup berbagai kegiatan mental yang secara keseluruhannya meeruakan kegiatan mengolah bacaan itu.
e)        Kelancaran dan keberhasilan pembaca dalam membaca dipengaruhi beberapa faktor baik dari dalam diri pembaca sendiri maupun berasal dari luar.

MASALAH PENGAJARAN MEMBACA DAN PEMBINAANYA

1.        HAKEKAT, KEDUDUKAN DAN FUNGSI PENGAJARAN MEMBACA
Pengajaran membaca pada hakekatnya adalah perangkat usaha formal–konvensional yang dilakukan secara sadar berencana untuk membina siswa dalam membaca. Rumusan ini menggambarkan banyak hal. Pertama, pengajaran membaca mencakup berbagai usaha yang saling bertaut satu dan lainnya. Kedua pengajaran membaca merupakan usaha formal yaitu usaha resmi yang melembaga sifatnya dalam bidang pendidika. Selain formal, pengajaran membaca juga merupaka usaha yang konvensional yaitu usaha yang selama ini biasa serta umum ditempuh dalam bidang pendidikan. Lawannya adalah usaha informal dan inkonvensional. Ketiga, pengajaran membaca dilakukan secara sadar dalam arti ada tujuan yang dicapai.
Kedudukan pengajaran membaca dalam pendidikan di satu pihak sebagai integral, yaitu bagian tak dapat dipisahkan dari keutuhan pendidikan. Dipihak lain pengajaran membaca berkedudukan sebagai alat dan media fungsional. Yaitu alat dan media yang memunyai tersendiri dalam keseluruahn kegiatan pendidikan. Kedudukan pengajaran membaca diliahat dalam konteks pengajaran bahasa.
Sejalan dengan kedudukannya, maka fungsi pengajaran membaca di satu pihak menjaga keutuhan, kehadiran pendidikan dan pengajaran bahasa khususnya. Fungsi ini sering pula disebut fungsi edukatif. Fungsi yang lain adalah fungsi tambahan dan pelengkap berupa fungsi sosial dan fungsi instrumental. Fungsi sosial, ikut mempertahanka kehadiran membaca dalam kehidupan manusia. Fungsi instrumental pengajaran membaca dapat diamati pada pemanfaatan pengajaran membaca sebagai ajang penerapan hasil penelitian.

2.        TUGAS DAN TUJUAN UMUM PENGAJARAN MEMBACA
Tugas pokok pengajaran membaca ialah membina siswa dalam bidang membaca. Membina siswa agar memiliki kemampuan yang dalam membaca. Yaitu memberikan respon yang tepat terhadap bacaan. Termasuk (1) memberikan respon komunikatif terhadap kalimat yang diamati (2) memberikan respon interpretatif terhadap hal-hal yang tersimpan dibalik permukaan bacaan, (3) memberikan respon evaluative-imajinatif terhadap keselurahan bacaan, yaitu kemampuan menilai, kesahihan, kebenaran dan kebergunaan bacaan.
Bagian kedua dari tugas pokok pengajaran membaca ialah membina pengetahuan siswa tentang membaca yaitu meliputi (1) tentang dan fungsi membaca, (2) tentang cara membaca untuk suatu tujuan. Bagian ketiga, membina siswa agar mereka memiliki sikap positif terhadap belajar membaca di satu pihak dan di pihak lain.
Tujuan tamabahan ialah berpartisipasi dalam usaha memasyarakatkan dan mem-budayakan membaca serta memanfaatkan dan merangsang studi dan penelitian membaca.

3.        MACAM-MACAM PENGAJARAN MEMBACA.
Yang selama ini dikembangkan di Indonesia ialah:
a)      Pengajaran membaca permulaan. Disajikan kepada siswa SD yang bertujuan membinaka dasar mekanisme membaca.
b)      Pengajaran membaca nyaring. Misalnya membaca suatu kutipan.
c)      Pengajaran membaca dalam hati. Membina siswa agar mampu membaca tanpa suara dan mampu memahami isi bacaan.
d)     Pengajaran membaca pemahaman. Dalam praktiknya sama dengan membaca dalam hati.
e)      Pengajaran membaca bahasa. Merupakan alat dari pengajaran bahasa. Khusus memahami bahasa.
f)       Membaca pustaka. Membaca yang berkaitan dengan tentang yang dicari, dengan kata lain mencari dasar.
g)      Pengajaran membaca teknik. Memusatkan perhatian siswa untuk menguasai teknik membaca yang dipandang patut.
h)      Membaca kreatif. Bisa menghasilkan karya ilmiah setelah membaca suatu buku.
Berdasarkan tujuannya pengajaran membaca dibedakan menjadi tiga yaitu;
Pertama, pengajaran membaca pengembangan, kemampuan menguasai mekanisme membaca dan kemampuan memahami bacaan secara komperhensif. Yang kedua, pengajaran membaca fungsional, yang bertujuan membina kemampuan siswa menggunakan membaca sebagai alat belajar dalam arti kata yang seluas-luasnya. Ketiga, pengajaran membaca rekreasional, bertujuan membina minat baca siswa, selera bacaannya dan daya apresiasinya.

4.        PRINSIP-PRINSIP PENGAJARAN MEMBACA
Dalam membina pelaksanaan pengajaran membaca di lembaga pendidikan, ada sejumlah prinsip pengajaran membaca yang dapat dipedomani oleh para guru. Beberapa prinsip pengajaran membaca yang patut diketahui oleh pata guru:
Ø  Belajat membaca ialah suatu proses yang sangat rumit dan sangat peka sifatnya terhadap berbagai pengaruh dari luar yang menekan.
Ø  Belajar membaca pada hakekatnya adalah proses belajar yang bersifa perseorangan.
Ø  Pengajaran membaca yang baik adalah pengajaran membaca yang memanfaatkan dengan tepat hasil diagnosis kesulitan belajar.
Ø  Belajar membaca hanya mungkin berlangsung lancar dan berhasil baik jika bahan pelajaran yang disajikan sesuai.
Ø  Membaca pada hakekatnya adalah proses memahami dan memberi makna kepada tuturan tertulis yang dibaca.
Ø  Dalam pengajaran membaca tidak satupun cara yang super sifatnya.
Ø  Konsep kesiapan membaca tidak hanya berlaku pada pengajaran membaca permulaan.
Ø  Pengajaran membaca harus membina siswa mengusai kunci-kunci membaca.

5.        PEMBINAAN PENGAJARAN MEMBACA
Pengajaran membaca yang selama ini dilaksanakan di lembaga-lembaga pendidikan Indonesia pada dasarnya ialah pelajaran membaca tradisional, sebagai salah satu sistem pengajaran membaca pengajaran membaca tradisional banyak kelemahan dan kekuranganya. Beberapa diantaranya ialah:
·         Pengertian membaca yang diikuti dalam pengajaran membaca tradisional adalah pengertian yang sempit, yang mengandung arti membaca ialah proses menangkap makna dari bahan baacaan.
·         Pemusatan pengajaran membaca tradisional ialah membina siswa belajar agar mereka dapat membaca, bukan untuk mendapatkan suatu pengetahuan dari proses membaca.
·         Pengajaran membaca ini biasanya memandang anak didik dalam kondisi yang sama, padahal terdapat perbedaan signifikan antara anak yang satu dengan anak yang lain, baik dari segi fisik maupun psikis.
·         Pengajaran membaca ini cenderung sebagai pengajaran yang berdiri sendiri, diisolasi ( tidak terpengaruh) dari jenis-jenis membaca lainya.
·         Para pendidik yang menerapkan pengajaran membaca tradisional pada umumnya kurang memiliki pengetahuan serta wawasan yang luas tentang masalah membaca dan pengajaranya.
Dalam pengajaran membaca tradisional dengan pelbagai kelemahanya dan kekuranganya mempunyani banyak tantangan untuk mempertahankanya, yaitu:
v  Kemampuan membaca yang dibutuhkan masyarakat modern ( komprehensif), yaitu membaca dengan kemampuan yang baik, dapat memahami, menilai, manfaatkan, dan memecahkan masalah dalam kehidupan, setelah adanya proses membaca.
v  Perkembangan ilmu pengetahuan dak teknologi
v  Kemajuan membaca dan pengajaranya
v  Tuntutan pendidikan modern
v  Ledakan populasi siswa
Untuk menghadapi kelima tantangan di atas, pembinaan yang patut dilakukan ialah pembinaan yang berfungsi ganda yaitu menghilangkan kelemahan-kelemahan pengajaran membaca tradisional disatu pihak dan secara langsung atau tidak dapat memberikan solusi tentang masalah yang dihadapi dalam pengajaran membaca.






DEFINISI MEMBACA
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: pembaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis, baik dengan melisankan (meng-ucapkan) maupun hanya dalam hati.
Berdasarkan definisi di atas, kita dapat me­ngatakan bahwa membaca merupakan suatu proses perubahan bentuk lambang (tulisan) menjadi wujud makna.
Membaca merupakan kegiatan yang tersusun dari 4 komponen: strategi, kelancaran, pembaca, dan teks. Strategi adalah kemampuan pembaca menggunakan beragam strategi untuk mencapai tujuan dalam membaca. Kelancaran ialah kemampuan membaca dengan kecepatan tertentu dengan pemahaman yang cukup. Gabungan dari teks, strategi, kelancaran, dan pembaca ini yang disebut membaca (Anderson, 2003:68). Pemahaman dalam hal ini merupakan tujuan dari membaca.
Ada dua aspek dalam pengajaran membaca. Aspek pertama, merujuk pada pengajaran membaca untuk pertama kali. Kedua, mengajar membaca bagi mereka yang telah memiliki keterampilan membaca dalam bahasa pertamanya (L1). Karena itu, menurut Anderson, kalau sudah dapat membaca dalam satu bahasa maka tidak perlu belajar baca dalam bahasa asing lainnya (L2), tetapi hanya perlu mentransfer keterampilan untuk membaca konteks baru dalam bahasa lain (tapi kita akan melihat kendala dari pernyataan ini. Baca sub Kendala Membaca: Tantangan Solusi)
Proses Baca
Ada tiga model kategori dalam proses membaca: 1) model bawah-atas (buttom-up model), 2) model atas-bawah (up-down model), dan 3) model interaktif (interactive model). Model bawah-atas, biasanya terdiri atas proses-proses baca pada level terendah. Dalam hal ini siswa membaca mulai dengan dasar pengenalan tulisan dan bunyi yang kemudian merekognisi morfem, kata, identifikasi struktur gramatikal, kalimat, lalu teks.

Tujuan Umum Membaca
Tujuan membaca, secara umum, adalah mengerti dan memahami makna atau arti yang terkandung dalam bacaan tersebut. Dengan mengerti dan memahami makna yang terkandung dalam bacaan tersebut, maka dapat menambah pengetahuan si pembaca tentang masalah yang tertuang di dalamnya.
Membaca sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Dengan membaca kita dapat memper­oleh berbagai pengetahuan. Banyak pengetahuan yang ditulis atau dituangkan dalam bentuk tulisan, baik dalam buku-buku, surat kabar, majalah, ataupun dalam media tulis lainnya.

MEMBACA,
Baca – Kegiatan membaca bersama antara anak dan orang tua berpengaruh terhadap sikap dan minat membaca anak. Melalui program membaca bersama antara orang tua dan anak, anak-anak jadi suka mengisi waktu luangnya dengan aktivitas membaca, mereka suka membaca bersama orang dewasa yang lain, suka membaca majalah dan buku-buku yang ada di rumah dan di perpustakaan sekolah. Buku-buku dan perlengkapan membaca merupakan dukungan instrumental untuk mendidik anak, program pelatihan untuk orang tua agar terlibat secara efektif dalam program membaca keluarga merupakan dukungan informatif yang sangat berguna bagi orang tua untuk memberikan dukungan penghargaan dan emosi kepada anak saat mereka membaca bersama.
Banyak cara yang ditempuh agar seseorang memperoleh pengetahuan. Salah satunya yang paling sering dilakukan adalah melalui membaca. Ini tampaknya lebih menekankan pengertian membaca sebagai kegiatan seseorang untuk memperoleh pengetahuan melalui sumber-sumber tekstual, seperti buku, artikel, koran dan sebagainya, dengan menggunakan mata atau pandangan sebagai alat utamanya. Jika diperluas lagi, pengertian membaca di sini sebenarnya tidak hanya persepsi visual terhadap bentuk rangkaian kata-kata (verbal) tetapi juga dapat berbentuk simbol-simbol lainnya, seperti angka, gambar, diagram, tabel yang di dalamnya memiliki arti dan maksud tertentu.
Yang dimaksud membaca ialah menangkap pikiran dan perasaan orang lain dengan perantaraan tulisan (gambar dari bahasa yang dilisankan). Tujuannya ialah menangkap bahasa yang tertulis dengan tepat dan teratur.
Melalui aktivitas membaca, seseorang dapat mengenal suatu objek, ide prosedur konsep, definisi, nama, peristiwa, rumus, teori, atau kesimpulan. Bahkan lebih dari itu, melalui aktivitas membaca seseorang dapat mencapai kemampuan kognitif yang lebih tinggi, seperti menjelaskan, menganalisis, hingga mengevaluasi suatu objek atau kejadian tertentu.
Minat baca berbanding lurus dengan kemajuan suatu bangsa. Bangsa yang besar minat bacanya pastilah bangsa yang maju. Mereka akan membaca dalam setiap kesempatan contohnya terlihat tidak hanya dalam perpustakaan umum dan pribadi tetapi juga di stasiun, di kereta,dan dalam perjalanan pun mereka membaca.
Membaca adalah kunci ke gudang ilmu. Ilmu yang tersimpan dalam buku harus digali dan dicari melalui kegiatan membaca. Keterampilan membaca menentukan hasil penggalian ilmu itu. Karena itu dapat dikatakan keterampilan membaca sangat diperlukan dalam dunia modern.
Sedangkan makna dari membaca adalah menduga, memperhitungkan, dan memahami. Berdasarkan arti membaca tersebut, pengertian membaca mencakup dua hal. Pengertian yang pertama yaitu membaca teks-teks yang terurai dari huruf demi huruf kemudian membentuk kata lalu terangkai dalam kalimat dan padu dalam paragraf. Pengertian yang kedua yaitu membaca fenomena-fenomena yang terjadi di alam semesta. Membaca sesuai pengertian ini misalnya memikirkan bagaimana terjadinya siang dan malam, peredaran planet mengelilingi matahari, dan penciptaan mahkluk.
Terdapat beberapa alasan mengapa kita harus senantiasa membaca. Pertama, membaca sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan. Kedua, membaca merupakan sarana pergaulan. Ketiga, membaca merupakan salah satu sarana hiburan. Keempat, membaca dapat mendatangkan rezeki. Kelima, membaca dapat menjadi sarana mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa. Keenam, membaca sebagai sarana koreksi diri.
Membaca adalah aktivitas memahami, menafsirkan, mengingat, lalu yang terakhir adalah menuliskannya kembali berdasarkan analisis fikiran kita sendiri.
Menurut Pawit M. Yusuf dalam kegiatan seminarnya tentang Indeks Baca di Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, membaca adalah berfikir. Tidak ada manusia yang hidup tanpa berfikir, karena sebagai mahkluk sosial ia selalu menghadapi berbagai masalah yang perlu dipecahkan.
Apa yang diketahui orang melalui kegiatan membaca pada hakikatnya adalah informasi. Artinya dengan membaca ia mendapatkan sejumlah informasi yang dalam keadaan tertentu bisa mempengaruhi sikap dan pandangan-pandangannya tentang perilaku kehidupannya. Sikap bisa berubah karena adanya terpaan informasi, kata Krech, dkk, (1968). Demikian pula kata Dwyer (1978) bahwa perilaku manusia bisa berubah karena membaca, meskipun membaca sebenarnya bukan satu-satunya faktor yang turut mempengaruhi sikap seseorang.
Melalui membaca orang bisa menjelajahi batas-batas ruang dan waktu. Peristiwa-peristiwa yang jauh terjadinya di masa lampau bisa diketahui melalui membaca. Demikian pula pristiwa yang terjadi di berbagai tempat di dunia ini bisa diketahui melalui membaca. Dengan demikian yang namanya membaca mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Adalah hal keliru jika memandang aktifitas membaca seolah-olah hanya “milik orang-orang sekolahan”, sehingga orang-orang yang tidak bersekolah dianggap tidak perlu lagi melakukan aktifitas membaca. Membaca pada dasarnya milik semua orang dan siapapun dapat melakukannya. Demikian juga dengan bahan yang dibacanya, tidak hanya berhubungan dengan hal-hal yang “serba serius”, dalam arti memerlukan proses kognisi tingkat tinggi, tetapi juga dapat berupa hal-hal yang ringan dan sederhana untuk sekedar memenuhi rasa ingin tahu seseorang, misalnya untuk memperoleh informasi tentang hasil pertandingan sepak bola, atau peristiwa-peristiwa lainnya yang terjadi pada suatu saat tertentu.
Di dalam buku Menjadi Guru Merdeka terjemahan dari A Pedagogy For Liberation Dialogues On Transforming Education, karangan Ira Shor dan Paulo Freire, makna membaca menurut Paulo Freire bukan sekedar berjalan atau melayang di atas lintasan kata-kata. Membaca adalah menuliskan kembali apa yang dibaca. Membaca adalah menemukan hubungan antara teks dan konteks dari teks bersangkutan, dan bagaimana menghubungkan antara teks atau konteks dengan konteks pembacanya.
Di Amerika pada masa lampau, kecepatan membaca perlu diukur, bahkan sampai dibuatkan rumus segala. Membaca seolah suatu kegiatan yang perlu kecepatan, seperti seorang berlari menuju finish. Namun dalam perkembangan selanjutnya, ternyata kecepatan membaca itu tidak harus selalu sama, tetapi fleksibel. Adakalanya kita harus cepat, adakalanya perlu memperlambat atau bahkan berhenti sebentar, lalu cepat lagi.
Kecepatan membaca sebenarnya tergantung pada tujuan membaca. Sutrisno menyatakan bahwa ada kebiasaan yang kurang baik yang sering dilakukan sampai dewasa ketika membaca yaitu:
a.       Vokalisasi. Membaca dengan bersuara sangat memperlambat membaca karena mengucapkan kata demi kata dengan lengkap.
b.      Gerakan Bibir. Menggerakkan bibir sewaktu membaca, sekalipun tidak mengeluarkan suara, sama lambatnya dengan membaca bersama. Kecepatan membaca bersuara ataupun dengan gerakan bibir hanya seperempat dari kecepatan membaca diam.
c.       Menunjuk dengan Jari. Untuk menunjuk agar tidak ada kata-kata yang terlewati maka kita melakukan dengan bantuan jari atau pensil menunjuk kata demi kata. Cara tersebut sebenarnya harus kita tinggalkan karena tidak memberi kepercayaan kepada mata dan otak.
d.      Regresi atau Mengulang. Kebiasaan selalu kembali ke belakang untuk melihat kata yang baru dibaca itu menghambat serius dalam membaca.
e.       Gerakan Kepala. Semasa anak-anak penglihatan kita memang masih sulit menguasai seluruh penampang bacaan, akibatnya kita menggerakkan kepala dari kiri ke kanan untuk dapat membaca baris-baris bacaan secara lengkap. Setelah dewasa, penglihatan kita telah mampu secara optimal sehingga cukup mata saja yang bergerak.
Ada dua kelompok besar faktor yang mempengaruhi minat membaca anak, yaitu faktor personal dan faktor institusional. Faktor personal adalah yang ada dalam diri anak, yaitu meliputi usia, jenis kelamin, intelegensi, kemampuan membaca, sikap dan kebutuhan psikologis. Sedangkan faktor institusional adalah faktor-faktor diluar diri anak, yaitu meliputi ketersediaan jumlah buku-buku bacaan dan jenis-jenis bukunya, status sosial ekonomi orang tua dan latar belakang etnis, kemudian pengaruh orang tua, guru dan teman sebaya anak.
Ada banyak kiat yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat baca siswa, antara lain:
a.       Memperkenalkan buku-buku. Cara ini dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran maupun guru perpustakaan. Buku yang diperkenalkan dapat berupa fiksi dan nonfiksi.
b.      Memperkenalkan hasil karya sastrawan. Sastrawan tenar di Indonesia banyak sekali, misalnya, Umar Kayam, Y.B. Mangun Wijaya, Rendra, Taufik Ismail dan lain-lain.
c.       Pameran buku, biasanya dapat dilaksanakan dengan bekerja sama antara toko buku atau penerbit.
d.      Majalah dinding hingga dewasa ini masih merupakan media sederhana untuk berekspresi, berkreasi, dan bereksplorasi. Majalah dinding dapat menjadi media kelas dan sekolah.



Posted on 16/12/2008 by pencilbooks
Klein, dkk. (dalam Farida Rahim, 2005: 3) mengemukakan bahwa definisi membaca mencakup: pertama, membaca merupakan suatu proses. Maksudnya adalah informasi dari teks dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca mempunyai peranan yang utama dalam membentuk makna. Kedua, membaca adalah strategis. Pembaca yang efektif menggunakan berbagai strategi membaca yang sesuai dengan teks dan konteks dalam rangka mengonstruk makna ketika membaca. Strategi ini bervariasi sesuai dengan jenis teks dan tujuan membaca. Ketiga, membaca merupakan interaktif. Keterlibatan pembaca dengan teks tergantung pada konteks. Orang yang senang membaca suatu teks yang bermanfaat, akan menemui beberapa tujuan yang ingin dicapainya, teks yang dibaca seseorang harus mudah dipahami (readable) sehingga terjadi interaksi antara pembaca dan teks.

Diposkan oleh Alkuff's Blog di 16.58


Tidak ada komentar:

Posting Komentar